Fifty Shades of Grey - E. L. James (4)

Cium aku sialan! Aku mohon, tapi aku tak bisa bergerak. Aku lumpuh dengan keinginan yang aneh dan asing, benar-benar terpikat olehnya. Aku menatap mulut Christian Grey yang indah seperti pahatan, terpesona, dan dia menatapku, tatapannya menyipit, matanya gelap.
Dia bernapas lebih keras dari biasanya, dan aku sudah berhenti bernapas sama sekali. Aku dalam pelukannya.
Cium aku, aku mohon. Dia menutup matanya, menarik napas dalam, dan kepalanya memberiku
goyang kecil seolah-olah menjawab pertanyaan diamku. Ketika ia membuka matanya lagi, dengan tujuan baru, tekad baja.
“Anastasia, kau harus menghindariku. Aku bukan pria yang tepat untukmu,” bisiknya.
Apa? Darimana asalnya ini? Tentunya aku seharusnya yang memutuskan itu. Aku mengerutkan kening ke arahnya, dan kepalaku berputar karena penolakan.
“Tarik napas, Anastasia, bernapas. Aku akan membantumu berdiri dan membiarkan kau pergi,” katanya pelan, dan dia dengan lembut mendorongku.
Adrenalin telah mengalir melalui tubuhku, dari nyaris tertabrak pengendara sepeda atau mabuk karena berdekatan dengan Christian, membuatku tegang dan lemah. TIDAK! Jiwaku berteriak saat ia menarik diri, membuatku seperti kehilangan sesuatu. Dia meletakkan tangan di bahuku, memegangku dalam jangkauannya, melihat reaksiku hati-hati. Dan satu-satunya yang bisa aku pikirkan adalah bahwa aku ingin dicium, sepertinya cukup jelas, dan ia tidak melakukannya. Dia tidak menginginkan aku. Dia benar-benar tidak menginginkan aku. Aku benar-benar telah menghancurkan acara minum kopi pagi ini.
“Aku sudah berdiri,” aku bernapas, menemukan suaraku. “Terima kasih,” aku bergumamku dibanjiri dengan penghinaan. Bagaimana mungkin aku salah membaca situasi di antara kita sama sekali? Aku harus menjauh dari dia.
“Untuk apa?” Ia mengerutkan kening. Dia tidak menarik tangannya dariku.
“Untuk menyelamatkanku,” bisikku.
“Idiot itu menggunakan jalur yang salah. Aku senang aku di sini. Aku ngeri membayangkan apa yang akan terjadi padamu. Apakah kau ingin masuk dan duduk di hotel sebentar?” Dia melepaskanku, tangan di samping tubuhnya, dan aku berdiri di depannya merasa seperti orang tolol.
Dengan mengoyang kepala, aku menjernihkan pikiranku. Aku hanya ingin pergi. Semua harapan samarku yang tak terucapkan telah putus. Dia tidak menginginkanku. Berpikir apa aku ini? Aku mengomeli diri sendiri. Apa yang akan Christian Grey inginkan darimu? Pikiran bawah sadarku mengolok-olok. Aku memeluk diri sendiri dan berbalik menghadapi jalan dan lega bahwa pria hijau telah muncul. Aku segera berjalan melintasi jalan, sadar bahwa Grey belakangku. Di luar hotel, aku berbalik sebentar untuk menghadap padanya tapi tidak bisa menatap mata.
“Terima kasih atas teh dan pemotretannya,” bisikku.
“Anastasia… aku…” Dia berhenti, dan kesedihan dalam suaranya menuntut perhatianku, jadi aku terpaksa sedikit menatap ke arahnya. Mata abu-abunya suram saat ia membelai rambutnya.
Dia tampak sedih, frustrasi, ekspresinya tegang, semua kontrol hati-hati miliknya telah menguap.
“Apa, Christian?” Tukasku kesal. Aku hanya ingin pergi. Aku hanya ingin membawa pergi harga diriku yang rapuh dan terluka menjauh darinya dan entah bagaimana caranya merawat kembali sampai sehat.
“Semoga berhasil dengan ujianmu,” bisiknya.
Hah? Inilah sebabnya mengapa ia terlihat begitu putus asa? Inikah ucapan perpisahaannya? Hanya memberiku ucapan semoga berhasil dalam ujianku?
“Terima kasih.” Aku tidak bisa menyembunyikan sarkasme dalam suaraku. “Selamat tinggal, Mr. Grey.” Aku berbalik, samar-samar kagum bahwa aku tidak tersandung, dan tanpa memandang untuk kedua kalinya, aku menghilang di trotoar menuju garasi bawah tanah.
Setelah berada di garasi beton gelap dan dingin dengan cahaya neon suram, aku bersandar di dinding dan menyandarkan kepala di tanganku. Apa sebenarnya yang kupikirkan? Air mata tanpa diminta dan tidak diinginkan menggenang di mataku. Mengapa aku menangis? Aku merosot ke lantai, marah pada diri sendiri untuk reaksiku yang tak masuk akal. Menekuk lututku, aku merapatkan pada diriku sendiri. Aku ingin membuat diriku sekecil mungkin. Mungkin rasa sakit yang tidak masuk akal ini akan semakin mengecil ketika aku menyusutkan diri.
Menempatkan kepalaku berlutut, aku membiarkan air mata irasional jatuh tak terkendali. Aku menangis karena kehilangan sesuatu yang tidak pernah aku punyai. Bagaimana konyolnya. Berduka pada sesuatu yang pernah ada – harapan, mimpiku yang hancur dan perkiraan yang buruk.
Aku belum pernah berada pada posisi ditolak. Oke… aku mungkin orang yang terakhir dipilih oleh tim basket atau voli – tetapi aku mengerti bahwa – berlari dan melakukan sesuatu yang lain pada saat yang sama seperti memantulkan atau melempar bola bukan keahlianku. Aku punya kekurangan serius dalam bidang olahraga.
Secara romantis, aku tidak pernah menempatkan diriku di luar sana, sekalipun. Rasa tidak aman seumur hidup.
Aku terlalu pucat, terlalu langsing, tidak terkoordinasi, daftar panjang kesalahanku takkan habis. Jadi aku selalu menjadi orang yang menolak pengagum yang mendekat. Ada yang cowok di kelas kimiaku yang menyukaiku, tapi tak seorangpun pernah memicu minatku – tak satupun kecuali Christian terkutuk Grey. Mungkin aku harus lebih ramah terhadap orang-orang seperti Paul Clayton dan José Rodriguez, meskipun aku yakin tidak satu pun dari mereka ditemukan menangis sendirian di tempat gelap.
Mungkin aku hanya perlu menangis.
Stop! Berhenti Sekarang! – Pikiran bawah sadarku secara kiasan berteriak padaku, lengan dilipat, bersandar pada satu kaki dan mengetuk-ngetukkan kakinya dengan frustrasi. Masuk ke mobil, pulang, segera belajar. Lupakan tentang dia… Sekarang! Dan berhenti berkubang pada tindakan mengasihani diri sendiri.
Aku menghela napas dalam, memantapkannya dan berdiri. Kuatkan diri Steele. Aku berjalan menuju mobil Kate, menyeka air mata dari wajahku. Aku tidak akan memikirkan dia lagi. aku hanya akan menulis kejadian ini sebagai pengalaman dan berkonsentrasi pada ujianku.
*****
Kate duduk di meja makan dengan laptopnya ketika aku tiba. Senyum ramahnya memudar ketika ia melihatku.
“Ana apa yang terjadi?”
Oh tidak… bukan si penyelidik Katherine Kavanagh. Aku menggeleng padanya seakan mengatakan mundurlah sekarang Kavanagh – tetapi aku mungkin juga akan berhadapan dengan, si buta, bisu, tuli.
“Kau habis menangis,” dia punya bakat yang luar biasa untuk menyatakan sesuatu yang sudah jelas kadang-kadang. “Apa yang bajingan itu lakukan padamu?” Ia menggeram, dan wajahnya – ya ampun, dia menakutkan.
“Tidak ada Kate.” Itulah masalah sebenarnya. Pikiran itu membawa senyum kecut di wajahku. “Lalu mengapa engkau menangis? Kau tidak pernah menangis,” katanya, suaranya melembut. Dia berdiri, mata hijaunya penuh dengan keprihatinan. Dia mejuluarkan tangannya dan memelukku.
Aku perlu mengatakan sesuatu agar dia tidak mengejar lagi.
“Aku hampir saja ditabrak seorang pengendara sepeda.” Ini yang terbaik yang bisa aku lakukan, tapi ini mengalihkan perhatian kate sejenak dari… dia.
“Ya ampun Ana – apakah kau baik-baik saja? Apakah kau terluka?” Dia memegangku di lengan panjang dan melakukan pemeriksaan cepat secara visual padaku.
“Tidak Christian menyelamatkanku,” bisikku. “Tapi aku cukup terguncang.”
“Aku tidak terkejut. Bagaimana kopinya? Aku tahu kau benci kopi.”
“Aku minum teh. Baik-baik saja, tidak ada yang perlu dilaporkan. Aku tidak tahu mengapa dia meminta aku.”
“Dia menyukai kau Ana.” Dia turun tangan.
“Tidak lagi. Aku tidak akan bertemu dia lagi” Ya, aku berusaha terdengar acuh.
“Oh?”
Sial. Dia tertarik. Aku berjalan ke dapur sehingga dia tidak bisa melihat wajahku.
“Ya… dia sedikit diatas kelasku Kate,” kataku sedatar yang aku bisa.
“Apa maksudmu?”
“Oh Kate, itu sudah jelas.” Aku berputar dan menghadapnya saat ia berdiri di ambang pintu dapur.
“Bukan untukku,” katanya. “Oke, dia punya lebih banyak uang daripadamu, tapi ia punya uang lebih banyak dari kebanyakan orang di Amerika!”
“Kate dia-” aku mengangkat bahu.
“Ana! Demi Tuhan – berapa kali harusku katakan? Kau total babe,” potong dia. Oh tidak. Dia mengomel ini lagi.
“Kate, tolonglah. aku perlu belajar” Aku memotongnya. Ia mengerutkan kening.
“Apa kau ingin melihat artikel itu? Sudah selesai. José mengambil beberapa foto bagus.”
Apakah aku memerlukan pengingat visual dari Christian aku-tidak-ingin-kau Grey?
“Tentu,” aku menyulap senyum di wajahku dan berjalan ke laptop. Dan itu dia, menatapku dalam warna hitam dan putih, menatapku dan menemukan segala kurangku.
Aku berpura-pura membaca artikel, sepanjang waktu membalas tatapan mantap abu-abunya, mencari foto untuk memdapat petunjuk mengapa ia bukan pria yang tepat untukku – katanya sendiri padaku. Dan tiba-tiba, jadi jelas sekali. Dia terlalu tampan. kita adalah kutub terpisah dan dari dua dunia yang sangat berbeda. Aku punya visi diriku sebagai Icarus terbang terlalu dekat ke matahari dan jatuh dan terbakar sebagai hasilnya. Kata-katanya masuk akal. Dia bukan pria yang tepat untukku.
Inilah yang ia maksudkan, dan itu membuat penolakannya lebih mudah diterima… nyaris. Aku bisa menerimanya. Aku paham.
“Sangat bagus Kate,” ujarku. “Aku akan belajar.” Aku tidak akan memikirkan dia lagi untuk sekarang, aku bersumpah pada diri sendiri, dan membuka catatan revisiku, aku mulai membaca.
Hanya ketika aku di tempat tidur, mencoba untuk tidur, aku membiarkan pikiranku melayang pada pagiku yang aneh. Aku terus kembali ke kutipan ‘aku tidak melakukan yang namanya pacaran’, dan aku marah karena aku tidak menerkam informasi ini lebih cepat, ketika aku masih dalam pelukannya secara halus memintanya dengan setiap sel dari tubuhku untuk menciumku. Dia mengatakan di sana dan saat itu juga. Dia tidak menginginku sebagai pacar. Aku berbaring menyamping. Iseng-iseng, aku bertanya-tanya apakah mungkin dia hidup selibat? Aku memejamkan mata dan mulai melayang. Mungkin dia menunggu seseorang. Yah bukan untukmu, alam bawah sadar kantukku melakukan tarikan akhir padaku sebelum melepaskan diri pada mimpiku.
Dan malam itu, aku bermimpi tentang mata abu-abu, pola berdaun dalam susu, dan aku berlari melalui tempat-tempat gelap dengan jalur pencahayaan yang menakutkan, dan aku tak tahu apakah aku berlari menuju sesuatu atau menjauhinya… itu tidak jelas.
*****
Aku meletakkan penaku. Selesai. Ujian akhirku sudah berakhir. Aku merasakan senyum puas tersebar di wajahku. Ini mungkin pertama kalinya sepanjang minggu aku sudah tersenyum. Ini Jumat, dan kita akan merayakan malam ini, benar-benar merayakannya. Aku bahkan mungkin mabuk! Aku belum pernah mabuk sebelumnya. Aku memandang ke seberang aula olahraga pada Kate, dan dia masih menulis dengan sibuk, lima menit sebelum akhir. Ini dia, akhir karir akademisku. aku tidak akan pernah duduk di deretan mahasiswa cemas dan terisolasi lagi. Di dalam kepalaku, aku melakukan jungkir balik anggun, memahami dengan sangat baik bahwa satu-satunya tempat aku bisa melakukan jungkir balik anggun hanya ada disana. Kate berhenti menulis dan meletakkan pena ke bawah. Dia melirik ke arahku, dan aku menangkap senyum puasnya juga.
Kami kembali ke apartemen bersama-sama dengan Mercedesnya, menolak untuk membahas tugas akhir kami. Kate lebih peduli tentang apa yang akan dia pakai ke bar malam ini. Aku sibuk merogoh tas untuk mencari kunci.
Mengapa engkau tidak bilang padaku ada bahaya? Mengapa engkau tidak memperingatkanku?
Para wanita tahu apa yang harus mereka jaga, karena mereka membaca novel-novel yang mengatakan pada mereka tipuan-tipuan ini …
“Ana, ada paket untukmu.” Kate berdiri di tangga ke pintu depan memegang bungkusan kertas cokelat. Aneh. Aku tidak memesan apapun dari Amazon baru-baru ini.
Kate memberiku bungkusan dan mengambil kunciku untuk membuka pintu depan. Ini ditujukan kepada Miss Anastasia Steele. Tak ada alamat atau nama pengirim.
Mungkin itu dari ibuku atau Ray.
“Mungkin dari keluargaku.”
“Bukalah!” Kate sangat tertarik saat ia menuju ke dapur untuk mengambil Champagne.
Aku membuka bungkusan itu, dan di dalamnya aku menemukan kotak terbuat dari separuh kulit berisi tiga buku yang tertutup kain yang tampaknya identik dengan kain tua dalam kondisi sempurna dan kartu putih polos. Ditulis di satu sisi, dengan tinta hitam dengan tulisan tangan bersambung rapi, adalah :
Aku mengenali kutipan dari Tess. Aku tertegun dengan ironi saat aku baru saja menghabiskan tiga jam menulis tentang novel-novel Thomas Hardy di ujian akhirku. Mungkin tak ada ironi… mungkin itu disengaja. aku memeriksa buku dengan teliti, tiga volume Tess of the D’Urbervilles. Aku membuka penutup depan. Ditulis dalam huruf tua di plat depan adalah:
‘London: Jack R. Osgood, McIlvaine dan Co, 1891.’
Ya tuhan – ini adalah edisi pertama. Buku-buku ini pasti bernilai tinggi, dan aku segera tahu siapa yang mengirimnya. Kate ada di bahuku menatap buku-buku itu. Dia mengambil kartunya.
“Edisi Pertama,” bisikku.
“Tidak.” Mata Kate melebar seperti tak percaya. “Grey?”
Aku mengangguk.
“Tak mungkin orang lain, pasti dia.”
“Apa maksud kartu ini?”
“Aku tidak tahu. Aku pikir itu peringatan – sejujurnya dia terus memperingatkanku. Aku tak tahu mengapa. Aku tidak menggedor pintunya setiap saat.” Aku mengerutkan kening.
“Aku tahu kau tak ingin membicarakan tentang dia, Ana, tapi dia serius suka kamu. Memperingatan atau tidak. “
Aku tidak membiarkan diriku menggerutu tentang Christian Grey selama seminggu terakhir. Oke… jadi mata abu-abunya masih menghantui mimpiku, dan aku tahu itu akan butuh waktu sangat lama untuk menghapus sentuhan tangannya di tubuhku dan aromanya dari otakku. Mengapa dia mengirimkan ini?
Dia mengatakan kepadaku bahwa aku tidak tepat baginya.
“Aku telah menemukan satu edisi pertama Tess dijual di New York seharga $ 14.000. Tapi punyamu dalam kondisi jauh lebih baik. Buku ini pasti berharga lebih mahal lagi.” Kate sedang berkonsultasi dengan baik temannya : Google.
“Kutipan ini – Tess mengatakan kepada ibunya setelah Alec D’Urberville telah melakukan sesuatu yang jahat dengan dia.”
“Aku tahu,” renung Kate. “Apa yang coba dia sampaikan?”
“Aku tak tahu, dan aku tidak peduli. Aku tak bisa menerima ini dari dia. Aku akan mengirimnya kembali dengan kutipan sama membingungkannya dari bagian tak jelas dari buku ini.”
“Cacian dimana Malaikat Clare bilang minggatlah?” Tanya Kate dengan wajah benar-benar datar.
“Ya, cacian itu.” Aku tertawa. Aku suka Kate, dia begitu setia dan mendukung. Aku mengepak ulang buku-buku itu dan meninggalkannya di meja makan. Kate mengulurkan segelas sampanye.
“Untuk selesainya ujian dan kehidupan baru kita di Seattle,” dia menyeringai.
“Untuk selesainya ujian, kehidupan baru kita di Seattle, dan hasil yang sangat baik.” Kita menyentuhkan gelas satu sama lain dan minum.
*****
Barnya bising dan sibuk, penuh dengan mahasiswa yang akan segera lulusan untuk segera menganggur. José bergabung dengan kita. Dia akan lulus satu tahun lagi, tapi dia dalam mood untuk party dan membuat kita masuk kesemangat kebebasan baru dengan membeli satu pitcher margarita bagi kita semua. Saat aku minum gelas kelimaku, aku tahu ini bukan ide yang bagus setelah minum sampanye.
“Jadi apa sekarang Ana?” José berteriak padaku mengatasi kebisingan.
“Kate dan aku akan pindah ke Seattle. Orang tua Kate telah membeli sebuah kondominium di sana untuknya. “
“Dios mio, bagaimana orang lainnya hidup. Tapi kau akan kembali untuk pertunjukanku.”
“Tentu saja, José, aku tidak akan melewatkannya.” Aku tersenyum, dan ia melingkarkan tangannya di pinggangku dan menarikku mendekat.
“Ini sangat berarti bagiku jika kau datang pada acaraku Ana,” bisiknya di telingaku. “Margarita lagi?”
“José Luis Rodriguez – apa kau mencoba membuatku mabuk? Karenaku pikir itu berhasil.” Aku tertawa.
“Aku pikir lebih baik aku minum bir. Aku akan pergi mengambil pitcher buat kita.”
“Tambah minumannya, Ana!” Kate berteriak.
Kate bersama cowok yang berperawakan sebesar sapi. Lengan Kate diatas pundak Levi, salah satu mahasiswa sesama jurusan Inggris dan fotografer di koran mahasiswanya. Dia menyerah mengambil foto dari kemabukan yang mengelilingi dia. Matanya hanya tertuju pada Kate. Dia mengenakan kitasol kecil, celana jins ketat, dan sepatu hak tinggi, rambut disanggul tinggi dengan sulur-sulur menjuntai ke bawah dengan lembut di sekitar wajahnya, dandanan menakjubkan yang biasa untuknya. Aku, hanya pakai Converse dan t-shirt tipe cewek, tapi aku mengenakan celana jinsku yang paling bagus. Aku melepaskan diri dari José dan bangkit dari meja kita. Whoa. Kepalaku berputar. aku harus berpegangan bagian belakang kursi. Tequila berbasis Koktail bukan ide yang bagus. Aku berjalan ke bar dan memutuskan bahwa aku harus ke ruang rias sementara aku masih bisa berdiri. Ide bagus, Ana.
Aku terhuyung-huyung melewati kerumunan. Tentu saja, ada antrian, tapi setidaknya itu tenang dan sejuk di koridor. Aku meraih ponselku untuk meringankan kebosanan mengantri. Hmm… Siapa yang yang terakhirku telpon? Apakah José? Sebelum itu ada nomor yang tak kukenali. Oh ya. Grey, aku pikir ini adalah nomor teleponnya. Aku tertawa. Aku tak tahu jam berapa sekarang, mungkin aku akan membangunkannya. Mungkin ia dapat memberitahuku mengapa dia mengirimkan buku-buku itu dan pesan samar. Jika dia ingin aku menjauh, ia seharusnya tidak menggangguku. Aku menekan seringai mabukku dan menekan panggilan otomatis. Dia menjawab pada dering kedua.
“Anastasia?” Dia sepertinya terkejut mendengar suaraku. Nah, terus terang, aku juga heran aku meneleponnya.
Lalu otakku yang bingung segera sadar… bagaimana dia tahu ini aku?
“Kenapa kau mengirimkan aku buku?” Cercaku padanya.
“Anastasia, kau oke? Kau kedengarnya aneh.” Suaranya penuh perhatian.
“Aku bukan orang anehnya, kau orangnya,” Tuduhku. Nah – jangan bilang padanya, keberanianku didorong oleh alkohol.
“Anastasia, kau minum?”
“Apa pedulimu?”
“Aku – ingin tahu. Dimana kau?”
“Di sebuah bar.”
“Bar mana?” Dia terdengar putus asa.
“Sebuah bar di Portland.”
“Bagaimana kau pulang?”
“Aku akan menemukan caranya.” Pembicaraan ini tidak seperti yang aku harapkan.
“Bar apa namanya?”
“Kenapa kau mengirimkanku buku, Christian?”
“Anastasia, di mana kau, katakan sekarang.”
Nada suaranya begitu, sangat diktator, gila kontrol seperti biasanya. Aku membayangkan dia sebagai sutradara film jadul memakai celana menunggang kuda, memegang megafon kuno dan cambuk kuda. Gambaran ini membuatku tertawa terbahak-bahak.
“Kau begitu… mendominasi.” Aku tertawa kecil.
“Ana, bantulah aku, di manakah kau?”
Christian Grey menyumpahiku. Aku tertawa lagi. “Aku di Portland… itu jauh dari Seattle.”
“Portland sebelah mana?”
“Selamat malam, Christian.”
“Ana!”
Aku menutup telepon. Ha! Meskipun ia tidak memberitahuku tentang buku itu. Aku mengerutkan kening. Misi tidak tercapai. aku benar-benar lumayan mabuk – kepalaku berputar tidak nyaman saat aku masuk antrian. Yah, tujuan dari ini adalah untuk mabuk. Aku telah berhasil. Inilah rasanya – mungkin bukan pengalaman untuk diulang kembali. Barisan ini telah bergerak, dan sekarang giliranku. Aku menatap kosong pada poster di belakang pintu toilet yang menganjurkan kebaikan seks yang aman. Ya ampun, apa barusan aku menelpon Christian Grey? Sial. HPku berdering dan itu membuatku melompat. Aku menjerit kaget.
“Hai,” aku bicara takut-takut ke telepon. Aku tidak memperhitungkan hal ini.
“Aku datang untuk menjemputmu,” katanya dan menutup telepon. Hanya Christian Grey yang bisa terdengar begitu tenang dan begitu mengancam pada saat yang sama.
Ya tuhan. Aku menarik keatas celana jeansku. Jantungku berdebar-debar. Datang untuk menjemputku? Oh tidak. Aku mau muntah… tidak… Aku baik-baik saja. Tunggu dulu. Dia hanya bermain-main dengan kepalaku. Aku tidak mengatakan di mana aku berada. Dia tak akan menemukanku di sini. Selain itu butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke sini dari Seattle, dan kita sudah lama pergi saat itu. Aku mencuci tangan dan memeriksa wajahku di cermin.
Aku terlihat memerah dan sedikit tidak fokus. Hmm… tequila.
Aku menunggu di bar sepertinya lama sekali untuk dapat satu pitcher bir dan akhirnya kembali ke meja.
“Kau sudah pergi begitu lama.” Kate menegurku. “Di mana kau?”
“Aku antri di kamar kecil.”
José dan Levi sedang berdebat panas tentang tim bisbol lokal kita. José berhenti dalam omelannya untuk menuangkan bir pada kita semua, dan aku meneguk dengan rakus.
“Kate, aku lebih baik keluar sebentar buat menghirup udara segar.”
“Ana, kau benar-benar kelas ringan.”
“Aku akan kembali dalam lima menit.”
Aku berjalan melewati kerumunan orang lagi. Aku mulai merasa mual, kepalaku berputar tidak nyaman, dan kakiku sedikit goyah. Lebih goyah dari biasanya.
Minum di udara malam dingin di tempat parkir membuatku menyadari betapa mabuknya aku.
Pandanganku mulai terpengaruh, dan aku benar-benar melihat segala sesuatu menjadi dua seperti di film kartun Tom and Jerry. Aku pikir aku akan muntah. Mengapa aku membiarkan diriku seperti ini?
“Ana,” José telah bergabung denganku. “Kau baik-baik saja?”
“Aku pikir aku terlalu banyak minum.” Aku tersenyum lemah padanya.
“Aku juga,” bisiknya, dan mata gelapnya mengamatiku dengan penuh perhatian. “Apakah kau perlu bantuan?” Dia bertanya dan melangkah lebih dekat, menempatkan lengannya di tubuhku.
“José, Aku tak apa-apa. Aku bisa berdiri.” Aku mencoba dan mendorongnya dengan agak lemah.
“Ana, ayolah,” ia berbisik, dan sekarang dia memegangku dalam pelukannya, menarikku lebih dekat.
“José, apa yang kau lakukan?”
“Kau tahu aku menyukaimu Ana, kumohon.” Tangannya yang satu ada di punggungku, yang lainnya di daguku mendongakkan kepalaku. Ya ampun… dia akan menciumku. “Tidak José, berhenti… tidak.” Aku mendorongnya, tapi dia seperti dinding otot yang keras, dan aku tak bisa menggeser dia.
Tangannya telah tergelincir ke rambutku, dan dia memegang kepalaku.
“Ayolah, Ana, cariña,” ia berbisik didepan bibirku. Napasnya lembut dan bau terlalu manis – dari margarita dan bir. Dia menjatuhkan ciuman sepanjang rahangku sampai ke sisi mulutku. Aku merasa panik, mabuk, dan tak terkendali. Perasaan itu membuatku seperti tercekik.
“José, tidak,” aku memohon. Aku tidak menginginkan ini. Kau adalah temanku, dan aku pikir aku akan muntah.
“Aku pikir wanita itu mengatakan tidak.”
Sebuah suara dalam kegelapan berkata pelan. Ya ampun! Christian Grey, dia ada di sini. Bagaimana bisa? José melepaskanku.
“Grey,” katanya singkat. Aku melirik cemas ke arah Christian. Dia menatap tajam José, dan dia marah. Sial. Perutku bergejolak, dan aku membungkuk, tubuhku tidak lagi bisa mentolerir alkohol, dan aku muntah dengan hebat ke tanah.
“Ugh – Dios mio, Ana!” José melompat mundur dengan jijik. Grey meraih rambutku dan menariknya keluar dari jalur semburan dan dengan lembut menuntunku ke petak bunga di tepi tempat parkir. Aku perhatikan, dengan rasa syukur yang mendalam, bahwa disini relatif gelap.
“Jika kau mau muntah lagi, lakukan di sini. Aku akan memegangimu.” Satu lengannya ada di bahuku – yang satunya memegang rambutku dengan ekor kuda darurat ke punggungku menjauhkan dari wajahku. Aku mencoba dengan canggung untuk mendorong dia pergi, tapi aku muntah lagi… dan lagi. Oh sialan…
Berapa lama ini akan berlangsung? Bahkan ketika sudah kosong dan tidak ada yang keluar, muntahan kering yang mengerikan melanda tubuhku. Aku bersumpah dalam hati bahwa aku tidak akan pernah minum lagi. Ini terlalu mengerikan untuk dikatakan. Akhirnya, berhenti.
Tanganku bertumpu pada dinding bata dari bedeng bunga, hampir tidak kuat menyangga – muntah dengan deras itu melelahkan. Grey menarik tangannya dariku dan mengangsurkan padaku saputangan.
Hanya dia yang punya saputangan linen bermonogram yang baru dicuci, CTG. Aku tidak tahu kau masih bisa membeli ini. Samar-samar aku ingin tahu apa arti singkatan huruf T ketika menyeka mulutku. Aku tidak bisa untuk menatapnya. Aku dibanjiri dengan rasa malu, jijik dengan diriku sendiri. Aku ingin ditelan oleh azalea di petak bunga dan di mana saja kecuali disini.
José masih ada dekat pintu masuk bar, mengamati kami. Aku merintih dan menutupi wajahku. Ini pasti menjadi momen terburuk dari hidupku. Kepalaku masih berputar saat aku mencoba untuk mengingat saat yang lebih buruk dibanding saat ini – dan aku hanya bisa mengingat penolakan Christian – dan ini begitu, begitu banyak nuansa gelap dalam hal penghinaan.
Aku mengambil risiko mengintip dia. Dia menatap ke arahku, wajahnya tenang, tak memberikan tanda apapun. Berbalik, aku melirik José yang dia juga terlihat cukup malu dan seperti aku, terintimidasi oleh Grey. Aku memelototi dia. Aku memiliki beberapa pilihan kata untuk apa yang disebut temanku, tidak ada yang aku bisa ulang di depan CEO Christian Grey. Ana dengan siapa kau bercanda, dia barusan melihatmu terlempar ke tanah dan masuk kedalam tanaman lokal. Tak ada yang menyamarkan kekuranganmu dari perilaku wanita terhormat.
“Aku akan emm… bertemu denganmu di dalam,” José bergumam, tapi kami berdua mengabaikan dia, dan dia ngeloyor kembali ke dalam gedung. Aku sendirian dengan Grey. Dobel sialan. Apa yang harus kukatakan padanya?
Minta maaf untuk panggilan teleponku.
“Maaf,” aku bergumam, menatap sapu tangan yang aku genggam dengan khawatir dengan jariku. Ini sangat lembut.
“Apa yang kau sesalkan Anastasia?”
Oh sial, dia ingin menyiksaku dengan pertanyaannya.
“Terutama panggilan telponku, menjadi mabuk. Oh, dan seterusnya,” bisikku, merasakan kulitku meningkat warnanya. Tolong, bisakah aku mati sekarang?
“Kita semua berada di sini, mungkin tidak sebegitu dramatis seperti kau,” katanya datar. “Ini tentang mengetahui batasmu, Anastasia. Maksudku, aku orang yang suka mendorong sampai batas, tapi sungguh ini tak ada apa-apanya. Apa kau membuat kebiasaan berperilaku semacam ini?”
Kepalaku berdengung karena kelebihan alkohol dan rasa risih. Apa hubungannya dengan dia? Aku tidak mengundang dia di sini. Dia terdengar seperti pria paruh baya memarahiku seperti anak yang bersalah. Sebagian dari diriku ingin mengatakan, jika aku ingin mabuk setiap malam seperti ini, maka itu keputusanku dan tidak ada hubungannya dengan dia – tapi aku tidak cukup berani. Tidak sekarang ketika aku barusan muntah di depannya. Kenapa dia masih berdiri di sana?
“Tidak,” kataku menyesal. “Aku belum pernah mabuk sebelum dan sekarang aku tidak punya keinginan untuk mengulangnya lagi.”
Aku hanya tidak paham mengapa dia ada di sini. Aku mulai merasa lemas. Ia melihatku goyah dan meraihku sebelum aku jatuh dan menarikku dalam pelukannya, memelukku dekat dengan dadanya seperti anak kecil.
“Ayolah, aku akan mengantarmu pulang,” bisiknya.
“Aku perlu memberitahu Kate.” Lagi-lagi… aku dalam pelukannya.
“Saudaraku dapat memberitahu dia.”
“Apa?”
“Saudaraku Elliot sedang berbicara dengan Miss Kavanagh.”
“Oh?” Aku tidak mengerti.
“Dia bersamaku saat kau menelepon.”
“Di Seattle?” Aku bingung.
“Tidak, aku menginap di the Heathman.”
Masih? Mengapa?
“Bagaimana kau menemukan aku?”
“Aku melacak ponselmu, Anastasia.”
Oh, tentu saja seperti itu. Bagaimana itu mungkin? Apakah itu legal? Penguntit, bisikan bawah sadarku melalui awan tequila yang masih mengambang di otakku, tapi entah bagaimana, karena itu dia, aku tidak keberatan.
“Apa kau bawa jaket atau tas?”
“Err… ya, aku kesini membawa keduanya. Tolong, aku perlu memberitahu Kate. Dia akan khawatir,” Mulut ditarik menjadi garis keras, dan dia mendesah berat.
“Jika kau memaksa.”
Dia menetapkanku, dan, menarik tanganku, membawaku kembali ke bar. Aku merasa lemah, masih mabuk, takut, lelah dan pada tingkat yang aneh merasa senang luar biasa. Dia mencengkeram tanganku – seperti jalur emosi yang membingungkan. Aku perlu setidaknya seminggu untuk memproses semuanya ini.
Ini berisik, berdesakan, dan musik sudah mulai sehingga ada banyak orang di lantai dansa. Kate tak ada di meja kita, dan José telah menghilang. Levi tampak bingung dan sedih sendiri
“Di mana Kate?” Aku berteriak pada Levi mengatasi kebisingan. Kepalaku mulai terasa dipukul seiring irama bass.
“Menari,” Levi berteriak, dan aku bisa bilang bahwa dia marah. Dia melirik Christian dengan curiga.
Aku berusaha memakai jaket hitamku dan menempatkan tas kecilku dipundak sehingga menempel dipinggulku. Aku siap untuk pergi, begitu aku telah melihat Kate.
“Dia di lantai dansa,” aku menyentuh lengan Christian dan berteriak ke atas di telinganya, menggesek rambutnya dengan hidungku, bau bersih, bau segar. Oh. Semua perasaan asing terlarang yang telah aku coba untuk menolak muncul dan mengamuk melalui tubuh lemahku. Aku memerah, dan pada suatu tempat yang dalam, dalam di ototku menegang nikmat.
Dia memutar matanya ke arahku dan meraih tanganku lagi dan membawa aku ke bar. Dia dilayani dengan segera, tidak ada kata menunggu untuk Mr. ‘gila-kontrol’ Grey. Apakah segala sesuatu datang begitu mudah padanya? Aku tidak bisa mendengar apa yang dia pesan.
Dia mengulurkan gelas yang sangat besar berisi air es.
“Minumlah,” Dia meneriakkan perintahnya padaku.
Lampu-lampu yang bergerak memutar dan berubah ketika mengiringi musik memunculkan cahaya berwarna aneh dan membayangi seluruh bar dan orang didalamnya. Dia bergantian warna menjadi hijau, biru, putih, dan merah setan. Dia memperhatikanku dengan penuh perhatian. Aku meneguk air dengan hati-hati.
“Semuanya,” teriak dia.
Dia begitu sombong. Tangannya menyisir rambut acak-acakannya. Dia tampak frustrasi, marah. Apa masalahnya? Selain gadis mabuk konyol meneleponnya di tengah malam sehingga dia pikir dia perlu diselamatkan. Dan ternyata dia perlu diselamatkan dari seorang teman yang tergila-gila padanya. Kemudian melihat dia menjadi muntah dengan payah di kakinya. Oh Ana … yang kau akan hidup dengan ini? Bawah sadarku secara kiasan berdecak dan memelototiku. Aku bergoyang sedikit, dan ia meletakkan tangannya di bahuku untuk menstabilkan tubuhku. Aku melakukan apa yang dia bilang dan minum semuanya. Itu membuatku merasa mual. Mengambil gelas dariku, ia meletakkannya di bar. Aku melihat secara kabur apa yang dia kenakan ; kemeja linen longgar putih, celana jeans nyaman, sepatu Converse hitam, dan jaket bergaris-garis gelap. Kancing kemejanya terbuka di bagian atas, dan aku melihat rambut tersebar di sela-selanya. Dalam bingkai pikiran gugupku, dia terlihat lezat.
Dia mengambil tanganku sekali lagi. Ya tuhan – ia membawaku ke lantai dansa. Sial.
Aku tidak suka menari. Dia bisa merasakan keenggananku, dan di bawah lampu warna-warni, aku dapat melihat senyum geli, sedikit sinis. Dia memberikan tarikan tajam di tanganku, dan aku dalam pelukannya lagi, dan dia mulai bergerak, membawaku dengan dia. Oh, dia bisa menari, dan aku tidak percaya bahwa aku mengikuti setiap langkah demi langkahnya. Mungkin karena aku mabuk hingga aku bisa mengikutinya. Dia memelukku erat-erat didekapannya, tubuhnya menempel tubuhku… jika dia tidak mencengkeramku begitu erat, aku yakin aku akan pingsan di depannya. Di belakang pikiranku, peringatan ibuku yang sering dia ucapkan datang padaku : ‘Jangan pernah percaya seorang pria yang bisa menari’.
Dia membawa kami melalui kerumunan ramai penari ke sisi lain dari lantai dansa, dan kami ada di samping Kate dan Elliot, saudara Christian. Musik yang berdetak keras dan curiga diluar dan didalam kepalaku. Aku terkesiap. Kate mengeluarkan jurusnya. Dia menggoyang pantatnya, dan dia hanya melakukan itu apabila dia menyukai seseorang. Benar-benar menyukai seseorang. Ini berarti akan ada kita bertiga sewaktu sarapan pagi besok. Kate!
Christian membungkuk dan berteriak di telinga Elliot. Aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan. Elliot tinggi dengan bahu lebar, rambut pirang keriting, dan mata bersinar jahat berkilauan. Aku tidak bisa mengatakan warnanya di bawah sorotan lampu. Elliot menyeringai, dan menarik Kate ke dalam pelukannya, yang mana ia dengan senang hati menjadi… Kate! Bahkan dalam keadaan mabukku, aku terkejut. Dia baru saja bertemu dengannya. Dia mengangguk pada apa pun yang Elliot katakan dan menyeringai padaku dan melambaikan tangan. Christian menarik kami menjauh dari lantai dansa dalam waktu cepat.
Tapi aku tak sempat bicara padanya. Apa dia baik-baik saja? Aku bisa mengira menuju kemana akhirnya mereka berdua. Aku perlu menguliahi dia tentang seks yang aman. Di bagian belakang pikiranku, aku berharap dia membaca salah satu poster di belakang pintu toilet. Pikiranku saling bertabrakan dalam otakku, melawan mabuk, rasanya berputar. Ini sangat hangat di sini, begitu bising, begitu penuh warna – terlalu terang. Kepalaku mulai berputar, oh tidak… dan aku bisa merasakan lantai sepertinya mendekati wajahku atau apa yang kurasakan semacam itu.
Hal terakhir yang aku dengar sebelum aku pingsan dalam pelukan Christian Grey adalah umpatan kerasnya. “Brengsek!”

Listen to Me - Kristen Proby (15)

"Kamu memiliki rambut yang indah," kataku. Biasanya aku tertarik pada cokelat, dan Mia wanita yang sangat cantik. Dia juga memliki...