"Teman sekamarnya pindah, dan dia tidak mampu membayar tempat itu sendiri."
"Addie," Cami meraih tanganku. "Kamu itu bukan keset, dimanfaatkan lalu diinjak."
"Dia tidak memperlakukanku begitu."
"Ya, dia melakukannnya." Mia mendesah dan mengambil tanganku yang lain. "Kamu pantas untuk yang lebih baik."
"Aku mencintai kalian berdua," Aku memulai, perutku terasa tersengal. "Aku tahu kalian ingin melindungiku. Tapi Jeremy adalah orang baik. Aku mencintai dia."
"Oke." Cami menyesap kopinya, lalu mengangkat bahunya yang ramping. "Tapi saat dia menghancurkan hatimu, kita akan selalu ada untukmu."
"Mari kita bicara tentang open night malam ini. Siapa yang akan pergi denganku?'
Mia dan Cami saling bertukar pandang.
"Aku akan bekerja," kata Mia. "Aku punya beberapa hal spesial yang ingin aku coba di sabtu malam."
"Aku sebenarnya tidak menginginkan itu," Kata Cami. "Tapi aku percaya kamu akan menemukan yang kita butuhkan."
"Aku akan mengajak Kat." Aku menggigit bibirku, ide mulai berputar di kepalaku. "Dia pengambil keputusan yang baik untuk hal ini."
"Ide bagus."
"Oh, bagus. Mr.Wonderful sudah kembali." gumam Cami.
"Apa yang kamu lakukan ke rambutmu?" tanya Riley dari tempat duduknya di bangku antik di kamarku, makan es krim Monkey Mini dari karton saat aku memutar rambutku ke dalam gulungan tebal. Aku telah mengecatnya dengan warna ungu malam ini.
"Tidak sulit. Hanya butuh latihan, tapi ketika kamu terbiasa, itu akan cepat."
"Aku suka warna ungu." Katanya sambil menyeringai. "Dan jeans yang terbentuk. Kamu punya bokong yang bagus."
Aku menyeringai dan membelokkan badanku, menatap bokongku di celana jeans. Dia benar. Bokongku tidak buruk. Aku bisa saja tidak memiliki pinggul, tapi apa boleh buat.
"Haruskan aku mengenakan jacket di atas ini?" Atasanku adalah kamisol hitam yang melambai, memamerkan belahan dadaku, tapi tidak menutupi bagian tubuhku yang mengundang masalah.
"Tidak usah, itu sudah seksi. Kamu akan menemukan penyanyi seksi untuk restoran ini, atau kencan."
"Aku sudah punya teman kencan." Aku menengadah ke atas. "Beri aku kekuatan."
"Jeremy bukan teman kencan." balas Riley saat dia mengobrak abrik bagian bawah karton es krim. "Dia teman bercinta."
"Riley!"
"Benar," katanya sambil mengangkat bahu. "Dan tidak ada yang salah dengan itu, selama kamu tahu scorenya."
"Baiklah, seksnya tidak buruk." Terdengar ketukan nyaring di pintu kamarku, lalu Kat masuk, tampak tinggi, cantik dan agak nyentrik. Rambut merahnya disematkan. Dia mengenakan atasan tanpa lengan, menunjukkan kulitnya yang cantik dan dengan sepatu stiletto pink setinggi 2 mil.
"Seharusnya menjadi seksi itu ilegal," Kata Riley sambil menghela nafas. "Kalian berdua terlihat seksi."
"Kenapa kamu tidak ikut dengan kita?" Tanya Kat.
"Karena aku punya rencana pemasaran yang baru tentang ide pertunjukan musik baru ini."
"Sorry." kata Kat sambil memperhatikanku mengoleskan make upku. "Dan berbicara tentang seksi, halo, Bom panas."
Aku menyeringai padanya di cermin. "Kau kencan terpanas yang kumiliki dalam waktu yang lama."
"Kembali ke acara sebenarnya." Dia mengedipkan mata. "Oke, apa yang kita cari malam ini?" Addie, ini acaramu, aku disini hanya untuk membantu."
"Ini acara kita." jawabku.
"Bagian depan restoran ada ditanganmu, dan kamu melakukan pekerjaan yang mengagumkan di bagian itu. "Riley mengoleskan lipstikku ke bibir penuhnya, memeriksa dirinya sendiri, lalu dengan kuat menyekanya lagi. "Aku tidak bisa memakai lipstik."
"Aku ingin menemukan pertunjukan yang bagus dari satu atau dua orang. "Aku mengatur rambutku, hingga jatuh seperti yang kuinginkan. "Seseorang dengan suara seksi. Aku rasa yang seperti Gavin DeGraw."
"Seksi." Kat mengangguk setuju. "Berapa uang yang bisa kita pakai?"
"Kita coba saja sekitar lima ratus semalam," Riley menjawab. "Cami bilang kalau harga itu yang pas untuk dapat kita gunakan."
"Tidak buruk. Semoga saja kita menemukan seseorang yang bagus. AKu sudah memasang tanda di jendela juga. Tidak ada salahnya."
"Oke.Ayo kita lakukan."Kat menuntun kami keluar dari apartemen.
"Bersenang-senanglah," kata Riley dan melambai saat dia berjalan ke mobilnya.
"Ini akan menyenangkan," Kata Kat, lalu meninju sikutku dan mengajakku ke mobilnya.
"Apakah anda ingin chardonnay lagi?" pelayan bertanya pada Kat, yang menolak dengan menggelengkan kepala."
"Aku ingin Diet Coke."
"Aku juga sama."
Pelayan mengangguk dan melangkah pergi.
"Anggur disini tidak bagus?" Aku bertanya pada Kat sambil menyeringai.
"Rasanya seperti kencing," jawabnya. "Aku mengerti kalau mereka ingin menyajikan anggur murah, dan ada beberapa makanan lezat di luar sana. Tapi tidak ada alasan untuk menyajikan anggur di bawah standar."
Senyumku terbit. "Mengesankan saat kamu berbicara tentang wine."
"Itu yang aku lakukan."
"Dan kamu melakukannya dengan baik." Ya dia melakukannnya. Kat adalah sommelier terbaik di Pacific Northwest. DIa tahu anggur.
"Apa yang kamu pikirkan sejauh ini?"
Kami sedang duduk di meja tinggi, di dekat panggung, di tengah ruangan, jadi mudah untuk melihat pertunjukan. Saat ini seorang wanita muda sedang menyanyikan lagu Trisha Yearwood secara off-key.
"Aku belum menemukan yang cocok untuk restoran."
Kat mengangguk setuju, lalu melotot pada pria yang baru saja meraba pantat Kat saat dia berjalan. "Jaga tangan untuk dirimu sendiri, bung."
Dia mengangkat bahu dan tersenyum tanpa perasaan bersalah, lalu lanjut berjalan.
"Laki-laki kotor." Kat mengumpat.
Ya, itu benar.
Gadis off-key menyelesaikan lagunya dan kami bertepuk tangan. Berikutnya adalah lagu lawas dari tahun 1967. Hanya saja penyanyinya masih muda, mungkin dua puluh dua. Gimbal rambutnya jatuh ke tengah punggungnya. Dia berjanggut. Pakaiannya kotor.
Lanjut membaca Listen to Me - Kristen Proby (3)
Baca sebelumnya Listen to Me - Kristen Proby (1)
Listen to Me - Kristen Proby (15)
"Kamu memiliki rambut yang indah," kataku. Biasanya aku tertarik pada cokelat, dan Mia wanita yang sangat cantik. Dia juga memliki...
-
"Kamu memiliki rambut yang indah," kataku. Biasanya aku tertarik pada cokelat, dan Mia wanita yang sangat cantik. Dia juga memliki...
-
"Teman sekamarnya pindah, dan dia tidak mampu membayar tempat itu sendiri." "Addie," Cami meraih tanganku. "Kamu ...
-
"Keller," aku mengoreksinya. "Sebenarnya, panggil saja Jake. Dan aku datang ke sini untuk pertunjukan musik di akhir pekan. M...