Listen To Me - Kristen Proby (3)

Dia mungkin seorang tunawisma yang biasanya bernyanyi di jalan.

Tapi kemudian dia mulai bernyanyi, dan oh astaga. Dia seperti memiliki suara malaikat, menyanyikan "Haleluya" seolah-olah dia menyanyikannya di surga. Kami terpesona saat dia memainkan gitar dan nyanyiannya.

Dia luar biasa.

Saat dia selesai, tepuk tangan terdengar meriah.

"Wow." Kat mengalihkan pandangan mata birunya padaku. "Apa kamu mendengarnya?"


Aku mengangguk. "Kita akan mendapatkan info kontaknya. Kalau kita bisa membersihkannya, dia pasti sempurna."

"Kalau dia mau dibersihkan," balas Kat. "Itu mungkin yang dia inginkan."

Beberapa penampilan biasa di panggung, lalu duopun naik ke panggung. Seorang pria dan wanita, yang saling memandang dengan binar di mata mereka, dan menyanyikan sebuah balada cinta. Keselarasan mereka selembut sutra.

"Aku menyukai mereka." kata Kat saat ia membungkuk. "Mereka terlihat serasi. Dan mereka sedang jatuh cinta, yang akan membawa chemistry seksi di tempat kita."

"Aku setuju."

Aku menginginkan mereka. Menyukai, menginginkan mereka. Mereka sempurna.

"Aku akan pergi dan berbicara dengan mereka." Kat mengangguk, mengalihkan perhatiannya pada pertunjukan lain yang sudah mulai.

Mereka tidak sebagus duo yang baru saja selesai.

"Permisi." Mereka berpaling ke arahku, dan aku menunjukkan senyum terbaikku. "Saya addison. Saya adalah salah satu pemilik Seduction, restoran baru di kota, dan saya ingin sekali berbicara dengan kalian tentang job di  akhir pekan di tempat saya."

Mereka memandang satu sama lain dan menyeringai. "Terima kasih. Saya Rebecca." Wanita pirang mungil menyalam tanganku. "Dan ini suami saya, Paul."

"Kalian berdua sangat berbakat."

"Berkat dia," Paul membalas dan menatap Rebecca dengan cinta.

"Saya membutuhkan pertunjukan untuk jumat dan sabtu malam. Saya akan membayar lima ratus semalam."

"Lima ratus untuk masing-masing lagu?" Rebecca bertanya, matanya tiba-tiba menyelidik.

"Tidak." Aku menggelengkan kepala. "Untuk setiap pertunjukan."

Mereka melirik satu sama lain, dan Paul menggeleng. "Maaf, kamu lebih berharga dari itu."

"Berapa biasanya bayaran anda?"

"Oh, kita belum mengambil job. Kami baru di area ini."

Aku menaikkan alisku. "Kalian pantas untuk menerima bayaran. Senang bertemu dengan kalian."

Tanpa melirik ke belakang, aku kembali ke meja kami. "Ego," kataku sambil mengangkat bahu.

"Gelandangan."

"Ya,benar."

Seorang pria berjalan ke atas panggung dan duduk di bangku, mengatur gitarnya. MC tidak mengumumkan namanya.

Penyanyi itu mengenakan kaos hitam dan celana jins. Tidak mengenakan sepatu. Sebuah topi ditaris ke keningnya, membayangi wajahnya.

Tapi aku mengenali tato itu dimana saja.

"Oh Tuhan, aku rasa dia  Jake Knox," Aku berbisik ke Kat tidak percaya.

"Tato," Dia menarik nafas dan aku memutar mataku. "Tuhan, Aku dulu sangat cinta kepadanya. Aku memiliki posternya di dinding kamarku saat aku masih SMA."

"Banyak yang begitu," jawabku dan memperhatikan saat jari-jarinya memainkan senar di gitarnya seolah sedang bercinta dengan wanita. "Tuhan, dia bermain sangat bagus."

"Apa yang dia lakukan di open night?" Kat menatapku lebar-lebar. "Apakah dia tinggal disini?"

Aku mengangguk. "Ya, aku dengar dia tinggal di dekat sini. Mungkin dia butuh dorongan ego?"

Tapi kemudian dia mulai menyanyikan lagu Lifehouse yang familiar, dan dadaku mengetat. Aku suka lagu ini. Aku suka suaranya. Suaranya renyah dan kaya dan hanya sedikit serak. Ini sex yang sebenarnya.

"Dia benar-benar sempurna." Suara Kat berbisik. Dia mungkin tidak bermaksud mengatakannya keras-keras.

"Aku tahu kita tidak mampu membayarnya. Dia mungkin bernyanyi di acara pernikahan selebriti dan omongkosong lainnya."

Jake melirik, menunjukkan wajah dan mata hijaunya yang menakjubkan, dan mengarahkannya ke arahku. Dia menyanyikan setidaknya lima baris saat mengunci pandanganku, lalu mengedipkan mata dan menundukkan kepalanya lagi.

Sombong.

"Bicara soal ego," gumamku. "Dia benar-benar berantakan dan seksi."

"Berantakan dan seksi." jawab Kat. "Tuhan, lihatlah bentuk ototnya saat dia bermain."

Percayalah, aku juga memperhatikan. Kamu haruslah dengan IQ minus 20 kalau sampai tidak memperhatikan bagaimana otot Jake Knox bergerak. Dia membuat segalanya dalam diriku bangkit. Yang masuk akal adalah dia mungkin pernah dilatihan untuk melakukan itu. Dia adalah pemain musik komersial.

Dia menyelesaikan lagunya dan meninggalkan panggung. Ada dengungan di antara penonton. Kami berdua jelas bukan satu-satunya yang mengenalnya. Jujur saja, Jake Knox adalah salah satu bintang rock terbesar yang pernah ada.

Atau, memang begitu, aku berpikir kalau dia tidak merilis musik baru dalam beberapa tahun terakhir ini.

Ada apa ya.

"Kurasa kita tidak akan menemukan artis kita disini." Kata Kat sambil menghela nafas. "Kita telah melihat setidaknya dua puluh orang dalam dua jam terakhir ini. Satu-satunya yang kita suka adalah tunawisma, pasangan egomaniak, dan bintang rock."

"Kamu benar. Ayo pergi." Kami mengumpulkan tas tangan kami dan berjalan menuju malam musim semi yang sejuk. Berjalan di depan kami, jauh dari klub, pria dengan tas gitarnya. Aku mengenali bentuk itu, yang berjalan, di manapun.

Jake Knox.

Ada apa denganku yang sangat tertarik pada tipe musisi nakal? Tidak pernah gagal. Jika ada musisi jahat di radius tiga puluh mil, bagian kewanitaanku akan sangat siaga. Setiap. Tiap. Waktu. Sejak aku kehilangan keperawananku pada Todd Perkins di kelas sebelas. Todd adalah penyanyi utama sebuah band garasi dan kebetulan merayu kewanitaanku di garasi, tepat di belakang drum.

Dan mencampakkanku keesokan harinya.

Lanjut membaca Listen to Me - Kristen Proby (4) 
Baca sebelumnya Listen to Me - Kristen Proby (2)

Listen to Me - Kristen Proby (15)

"Kamu memiliki rambut yang indah," kataku. Biasanya aku tertarik pada cokelat, dan Mia wanita yang sangat cantik. Dia juga memliki...