Listen To Me - Kristen Probi (4)

"Bahkan cara jalannyapun seksi," bisik Kat ke telingaku.

"Mm," jawabku.

"Jangan bersikap cuek seperti itu," katanya sambil mendorong bahuku. "Dia membuatku semangat, dan kamu adalah seorang penyuka  bad boy. Kamu sudah seperti itu sejak aku ketemu dirimu di awal tahun pertama sekolah."

Aku mengangkat bahu. Dia benar.


"Ayo pergi ke restoran. Aku ingin melihat apa yang dibuat Jamie di bar," Kat akhirnya berbicara hal lain setelah aku tidak mau bicara tentang kegemaranku akan para musisi.

"Aku akan memeriksa pelayannya, kita berdua bisa memaksa Mia pulang."

"Mia bekerja?" Tanya Kat sambil mengerutkan kening.

"Tentu saja Mia bekerja. Dia tidak tidur."

"Dia butuh intervensi."

"AKU AKAN MENGAMBIL segelas itu," kata Mia sambil bergabung dengan Kat dan aku di bar setelah tutup. Kat dan aku masing-masing menangani staf kami sendiri selama sisa malam itu, menangani beberapa kecelakaan, lalu mengirim semua orang pulang dan memutuskan untuk bersantai dengan segelas anggur sebelum kami pulang.

"Aku tidak percaya kamu masih di sini," kataku pada Mia. "Kamu bahkan sudah disini sejak pagi."

"Kamu juga begitu," dia menjawab sambil mendesah saat dia duduk di sampingku dan menggelengkan kepalanya ke depan dan ke belakangan di pundaknya, senam ringan. "Ini hari yang baik."

"Kamu harus libur besok," kataku, tidak menatap wajahnya.

"Kamu bukan bosku."

"Ya, benar," jawab Kat dan memberikan dua gelas anggur untuk Mia. "Dari kita semua, kamu bekerja paling lama. Dapur akan bertahan untuk satu hari tanpamu."

"Apa yang kulakukan pada hari libur?" Tanya Mia.

"Bersihkan kamar mandimu. Pergilah ke pantai dan letakkan kakimu di air. Berbaring. Jangan datang ke sini."

"Mungkin." Mia mengangkat bahu. "Apa kalian menemukan artis kita?"

"Tidak ketemu." Aku menggelengka kepala dan menyesap anggur sampai habis.

"Tapi kalian berdua terlihat seksi. Tidak ada yang menawarkan dirinya kepada kalian?"

"Bokong Kat digoda sekali atau dua kali."

"AKu ingin menggoda bokong Kat." jawab Mia. "Sejak kita bertemu di kampus, aku ingin mennggoda bokongnya."

"Dan kamu sudah melakukannya." Kat menjawab dengan sopan dan menyesap tequila.

"Dan kamu suka," jawab Mia. "Ceritakan tentang malam ini?"

"Tidak banyak yang bisa diceritakan. Kami menemukan satu pasangan yang bagus tapi mereka menginginkan uang yang banyak."

"Kami juga menemukan Jake Knox," kata Kat sambil menyeringai puas.

"Apa?" Mia menjerit. "Kamu bercanda!"

"Ya, Kita melihatnya. Dia menyanyikan satu lagu."

"Mengapa? Dia terkenal. Dia tidak harus pergi ke tempat itu."

"Percayalah, aku tidak menanyakan motifnya." Kat memenuhi gelas kami lagi. "Aku senang bisa duduk kira-kira sejauh tiga meter darinya."

"Aku cemburu sekali! Aku menempel poster Hard Knox di kamarku!"

"Hard Knox adalah band yang bagus." Aku menyesap anggurku. "Mereka bubar, tau tidak."

"Sedih sekali." Mia menggelengkan kepalanya. "Kalian harus menemui Jake Knox"

"Tapi kami tidak menemukan artis untuk tempat ini." Aku merasa kalah. Aku ingin melupakan malam ini.

"Kita akan menemukannya,"Kata Kat. "Mintalah Jeremy mencarinya."

"Dia tidak memainkan jenis musik yang aku inginkan untuk tempat kita."

"Maksudmu jenis yang baik?" Mia bertanya sinis.

"Oke, dia bukan Daughtry. Dia tidak mengerikan."

Kat dan MIa hanya mengangkat alis padaku dan tersenyum.

"Oke, musiknya tidak bagus."

Kami semua tertawa cekikikan dan terbuai dalam keheningan yang nyaman. Akhirnya, Mia merintih dan meletakkan kepalnya di atas bar. "Lelah sekali."

"Besok hari libur, Mia. Aku tegaskan itu." AKu menggosok bahunya dalam lingkaran yang besar. "Kamu butuh tidur."

"Ok, tapi kalau terjadi sesuatu, kalian harus menelponku."

"Ya, kita akan menelponmu," Ucap Kat. Kami berpandangan satu sama lain sementara aku memijat bahu Mia dan kita tidak perlu berbicara keras untuk mengetahui apa yang dipikirkan yang lain.

Tempat ini akan terbakar sebelum kami menelepon Mia besok.



Chapter Two

Jake

"Kamu sangat diam."

Kepalaku tersentak mendengar suaranya, menarikku dari lamunan sialan, dan aku mengerutkan keningku. "Maaf, aku tidak bermaksud begitu."

"Apa yang kamu pikirkan?"

Aku mengunyah bacon dan menonton sahabat lebih dari lima belas tahun di seberang meja dari di restoran yang selama ini menyajikan sarapan terbaik di Portland. Christina telah bersamaku melewati ketenaran dan kemewahan, dan beberapa saat paling menyedihkan dalam hidupku. Dia melihat saat aku mencapai titik terendah dan mencakar jalan keluar dari kegelapan lagi.

Dia satu-satunya orang di dunia yang aku tahu bisa dipercaya.

"Musik selalu ada di pikiranku," jawabku dan menyesap kopi. Dia memutar matanya yang cukup coklat dan melempar rambut coklatnya ke bahu seperti yang biasa dia lakukan saat kesal.

"Kamu dapat undangan untuk-"

"Tidak tertarik," jawabku, memotongnya. "Aku menjalaninya, dan aku tidak butuh lagi."

"Kamu sudah melewatinya. Kamu bernyanyi di Open Night di pekan kemarin dan kamu berhasil."

AKu mengangkat bahuku dan tidak menyangkal kalau dia memang benar. Aku merindukan musik.

Tidak bermain musik didepan penonton rasanya sakit seperti kehilangan sebelah kaki, tapi bermain di open night adalah sebuah kesalahan besar. Karena sekarang aku menginginkannya lagi.

Lanjut  membaca Listen to Me - Kristen Proby (5)
Baca sebelumnya Listen to Me - Kristen Proby (3)

Listen to Me - Kristen Proby (15)

"Kamu memiliki rambut yang indah," kataku. Biasanya aku tertarik pada cokelat, dan Mia wanita yang sangat cantik. Dia juga memliki...