Bab Satu
Addison
"Singkatnya," Cami sedang membaca ulasan di Portland Tribune, dia adalah seorang teman baik dan sekaligus rekan bisnis. "Seduction adalah restoran yang tidak seperti yang pernah kudatangi. Makanannya enak, wine barnya mengesankan, dan suasananya begitu seksi, itu akan membuatmu menarik nafas. Aku sangat merekomendasikan restoran ini untuk kencan malam anda berikutnya."
"Aku ingin mengirim bunga kepada penulis resensi itu", kata Mia sambil tersenyum lebar. "Siapa yang mengira hanya setelah enam bulan membuka tempat ini, kita sudah punya ulasan seperti ini?"
"Well, tidak masalah karena mereka menyukai makanannya," jawabku, dan meraih kertas itu supaya aku bisa membacanya lagi untuk yang kelima belas kalinya.
"Kamu jenius di dapur, Mia. Kita sudah tau itu sejak kita masih di SMA."
"Aku masih gugup, apalagi sekarang aku tidak pernah tahu siapa pelanggannya. Kita bahkan tidak pernah lihat penulis ini pernah ada disini."
Mia menggigit kutikula di ibu jarinya dan mengerutkan kening. "Mungkin sebaiknya aku menambahkannya ke menu."
"Menunya sempurna," jawab Cami sambil menggelengkan kepalanya. "Pelanggan itu mencintai kita."
Kami saling tersenyum, dan akhirnya aku melakukan sedikit tarian bahagiaku di kursi. Kami belum membuka restoran. Kat dan Riley, dua mitra bisnis di fivesome kami belum datang. Mia, Cami dan aku telah membaca artikel itu berulang-ulang, tersenyum dan menari.
Bahagia
Karena sialnya, kami telah berhasil mengatasi masalah sejak kami membuka restoran enam bulan yang lalu. Semua uang kami ada dalam keranjang ini. Kami tidak boleh gagal.
Dan kami tidak akan melakukan kegagalan.
Kami mendengar pintu depan terbuka dan menutup, dan aku berpikir bisa melihat Riley atau Kat, tapi sebaliknya Jeremy masuk ke ruang makan, terlihat berantakan sepertinya karena kurang tidur. Kelopak matanya masih berat. Dagunya belum dicukur. Rambut pirangnya berantakan, masih kaca karena jariku tadi malam.
Ya Tuhan, pria ini bisa membuat hormonku bekerja lebih keras.
Dia menyeringai dan mencium kepalaku, kemudian mengambil kopi untukku dan duduk di sampingku.
"Kenapa kamu di sini?" Cami bertanya sambil mengerutkan kening. "Moodku sangat bagus hingga harus berpura-pura senang melihatmu."
Aku memelototi sahabatku itu, tapi dia hanya mengangkat bahu.
"Pacarku ada di sini." Jeremy membalas dan menyesap kopi. "Aku merindukannya."
"Tolong deh." bisik Mia sambil memutar matanya. Teman-temanku dulu menyukai Jeremy, pada awalnya, tapi sekarang mereka terang-terangan menunjukkan ketidakpedulian kepadanya. Tapi itu karena mereka sangat protektif kepadaku. Mereka tidak ingin melihatku terluka. Tentu, karena dia adalah seorang musisi. Tidak terlalu berbakat, namun dia melakukannya dengan baik, tampil dengan bandnya, Hells Roses, secara teratur.
Dan, Oh Tuhan, apa yang dilakukan pria ini di kamar tidur seharusnya menjadi sebuah tindak kejahatan. Dia membuatku tertawa, dan terlepas dari kepribadianya yang sombong terhadap orang lain, dia memiliki momen manis saat kami sedang berduaan saja.
Apakah dia pria idaman? MUngkin tidak, tapi mungkin karena aku terlalu dipengaruhi oleh novelis romantis dan Disney.
"Tolong bersikap baik," Aku menyahut dan terus membaca koran. " kita mendapat ulasan yang luar biasa di Tribune," Aku memberitahu Jeremy sambil menyeringai.
"Tentu saja kalian mendapatnya," jawabnya dan mencium pipiku. "Apakah ulasan musik ada di sana juga?" Dia membalik koran itu dan menelusuri halaman-halamannya, lalu membaca ulasan tentang musik dan klub di Portland. "Ga ada satupun?"
Aku memandang ke arah Cami, dia memutar matanya jengkel. Aku mengangkat bahu. Jeremy tidak termasuk di bisnis restoran. Dia tidak mengerti tentang masalah ulasan itu bagi kami.
"Aku sudah berpikir," Aku membuka percakapan, dan menyandarkan siku ke atas meja. "Sekarang bisnis mulai membaik, aku pikir kita harus menambahkan musik live pada akhir pekan."
"Maaf, manis." Jeremy berkata sambil menghela nafas. "Kami sudah dibooking."
Terima kasih Tuhan. Band Jeremy bukan yang kuinginkan untuk restoran. Tapi alih-alih menusuk egonya, aku hanya tersenyum dan mencium bahunya.
"Aku tahu sayang. Tapi aku ingin pertunjukan satu orang. Mungkin solo, hanya microfon dan lainnya, oke?"
"Kita bisa mengusahakan itu," Balas Cami sambil mengernyit. Cami adalah chief finansial kami. Dia menangani masalah uang, dan dia ( penyihir menambahkan tokoh di kepalanya.)
"Siapa yang kamu pikirkan?"
"Aku belum tahu." Aku meraih cangkir kopi dan mengerutkan kening saat melihat Jeremy sudah meminumnya sampai tetes terakhir.
"Babe, tolong pergi ke Starbucks dan beli kopi lagi."
"Aku lupa membawa dompet." jawabnya dengan cemberut. Aku meraih tasku dan memberinya duapuluh dollar. "Terima ini."
"Terima kasih."
"Oh, dan ada satu tempat untuk mencari seorang musisi," tambahnya sambil melangkah dari meja. "Ada acara open night di Crush Sabtu ini. Biasanya ada yang tampil bagus di sana. Aku taruhan kalian akan mendapat yang kalian cari."
Aku menyeringai pada pacarku yang seksi dan meniupkannya ciuman. "Terima kasih."
Dia mengedipkan mata dan melenggang keluar dari restoran. Saat pintu tertutup di belakangnya, Mia menggelengkan kepala ke arahku. "Kamu serius?"
"Acara Open Mic adalah ide yang brilian," Aku memberitahunya.
"Bukan itu yang dia bicarakan." kata Cami. "Jeremy adalah laki-laki modal tampang."
"Dia tidak begitu." Aku memutar mataku dan kembali duduk di kursiku.Oke, mungkin dia kadang belagu. "Dia manis. Dan seksi."
"Dan jadi parasit untukmu. Dompetnya ada di saku belakangnya, "kata Mia. "Dan aku taruhan keuntungan bulan ini kalau dia tinggal denganmu juga."
Lanjut Baca Listen To Me - Kristen Proby (2)
Listen to Me - Kristen Proby (15)
"Kamu memiliki rambut yang indah," kataku. Biasanya aku tertarik pada cokelat, dan Mia wanita yang sangat cantik. Dia juga memliki...
-
"Kamu memiliki rambut yang indah," kataku. Biasanya aku tertarik pada cokelat, dan Mia wanita yang sangat cantik. Dia juga memliki...
-
"Teman sekamarnya pindah, dan dia tidak mampu membayar tempat itu sendiri." "Addie," Cami meraih tanganku. "Kamu ...
-
"Keller," aku mengoreksinya. "Sebenarnya, panggil saja Jake. Dan aku datang ke sini untuk pertunjukan musik di akhir pekan. M...