Christian membawa kedua tangannya ke
rambutnya dan berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Kedua tangannya –
dua kali lipat jengkel. Sepertinya pengendalian dirinya yang kuat
tampak sedikit merosot.
“Aku tidak mengerti mengapa kau tak memberi tahuku,” protesnya padaku.
“Topiknya tak pernah muncul dalam obrolan
kita. Aku tidak memiliki kebiasaan mengungkapkan status seksualku pada
semua orang yang aku temui. Maksudku, kita hampir tak mengenal satu sama
lain.” Aku menatap tanganku. Mengapa aku merasa bersalah? Mengapa dia
begitu marah? Aku mengintip ke arahnya.
“Yah, kau tahu banyak tentangku sekarang,” bentak dia, menekan mulutnya menjadi garis keras. “Aku tahu kau tidak berpengalaman, tapi perawan!” Katanya seperti kata-kata yang kotor. “Sialan, Ana, aku hanya menunjukkan padamu,” ia mengeluh. “Semoga Tuhan memaafkan aku. Pernahkah kau dicium, selain olehku?”
“Tentu saja aku pernah.” Aku mencoba untuk terlihat tersinggung. Oke… mungkin dua kali.
“Dan seorang pria muda yang baik belum
pernah membuatmu jatuh cinta? Aku tak mengerti. Kau dua puluh satu
tahun, hampir dua puluh dua. Kau cantik.” Dia mengusap tangannya ke
rambutnya lagi.
Bagus. Aku memerah karena gembira.
Christian Grey menganggapku cantik. Aku simpul jemariku secara
bersamaan, menatapnya dengan keras, mencoba menyembunyikan senyum
konyolku. Mungkin dia rabun, alam bawah sadarku telah membangunkan orang
yg berjalan sambil tidur. Di mana dia saat aku membutuhkannya?
“Dan kau serius membahas apa yang aku
inginkan, padahal kau belum memiliki pengalaman.” Kedua alisnya
menyambung. “Bagaimana kau bisa menghindari seks? Aku mohon ceritakan
padaku.”
Aku mengangkat bahu.
“Benar-benar tak ada seorangpun,
percayalah.” Muncul untuk digesek, hanya denganmu. Dan kau ternyata
seorang monster. “Mengapa kau begitu marah padaku?” Bisikku.
“Aku tak marah padamu, aku marah dengan
diriku sendiri. Aku menduga…” Dia mendesah. Dia menganggap aku cerdik
dan kemudian menggeleng. “Apakah kau ingin pergi?” Tanyanya, suaranya
melembut.
“Tidak, kecuali kau ingin aku pergi,” bisikku. Oh tidak… aku tak ingin pergi.
“Tentu saja tidak. Aku suka kau di sini.”
Dia mengernyit saat ia mengatakan ini dan kemudian melirik jam
tangannya. “Sekarang sudah malam.” Dan dia menoleh ke arahku. “Kau
menggigit bibirmu.” Suaranya serak, dan dia menatapku curiga.
“Maaf.”
“Jangan meminta maaf. Hanya saja aku ingin menggigitnya juga.”
Aku terkesiap… bagaimana bisa dia mengatakan hal-hal seperti itu padaku dan tak mengharapkan aku terpengaruh.
“Ayo,” bisiknya.
“Apa?”
“Kita akan meluruskan situasi sekarang.”
“Apa maksudmu? Situasi apa?”
“Situasimu. Ana, aku akan bercinta denganmu, sekarang.”
“Oh.” Lantainya telah menjauh. Aku sebuah situasi. Aku menahan napas.
“Itupun jika kau menginginkan, maksudku, aku tak ingin memaksakan keberuntunganku.”
“Kupikir kau tidak melakukan ML. Aku pikir kau hanya suka sex yang keras,” Aku menelan ludah, mulutku tiba-tiba kering.
Dia menyeringai jahat, pengaruhnya sampai ke bawah… disana.
“Aku bisa membuat perkecualian, atau
mungkin menggabungkan keduanya, kita lihat saja. Aku benar-benar ingin
bercinta denganmu. Ayo ke tempat tidur denganku. Aku ingin perjanjian
kita berjalan, tetapi kau benar-benar harus paham beberapa ide tentang
apa yang sedang kau lakukan. Kita bisa mulai pelatihanmu malam ini –
dasar-dasarnya. Maksudku ini tidak berarti aku telah menjadi terlalu
sentimentil, ini hanya sarana untuk mencapai tujuan, tapi satu yang aku
inginkan, dan mudah-mudahan kamu juga.” Tatap tajam mata abu-abunya.
Aku memerah… oh… keinginanku akan menjadi kenyataan.
“Tapi aku belum melakukan semua hal yang kau minta dari daftar peraturan itu.” Suaraku mendesah ragu-ragu.
“Lupakan peraturan. Lupakan semua detail
itu untuk malam ini. Aku menginginkanmu. Aku menginginkanmu sejak kau
jatuh ke kantorku, dan aku tahu kau ingin aku. Kamu tak akan duduk di
sini dengan tenang membahas hukuman dan batasan kekerasan jika kau tidak
ingin juga. Tolong, Ana, habiskan malam denganku.” Dia menahan
tangannya padaku. Matanya yang cerah, sungguh-sungguh… bersemangat, dan
aku meletakkan tanganku padanya. Dia menarikku ke dalam pelukannya
hingga aku bisa merasakan panjang tubuhnya terhadapku, tindakan cepat
ini membuatku terkejut. Ia menjalankan jari-jarinya ketengkuk leherku,
kuncirku bergerak di sekitar pergelangan tangannya, dan dengan lembut
menarikku jadiku dipaksa melihat ke arahnya. Dia menatapku.
“Kau adalah seorang wanita muda yang berani,” bisiknya. “Aku kagum padamu.”
Kata-katanya seperti alat pembakar ;
darahku terbakar. Dia membungkuk dan mencium bibirku dengan lembut, dan
dia mengisap bibir bawahku.
“Aku ingin menggigit bibir ini,” bisiknya didepan mulutku, dengan hati-hati dia merenggut dengan giginya.
Aku mengerang, dan dia tersenyum.
“Aku mohon Ana, ijinkan aku bercinta denganmu.”
“Ya,” bisikku, karena itulah mengapa aku
di sini. Senyumnya penuh kemenangan saat ia melepaskanku dan mengambil
tanganku dan menuntunku menembus apartemennya.
Kamar tidurnya sangat luas.
Langit-langitnya tinggi, dari jendela dapat memandang keluar kerlip
cahaya dari ketinggian kota Seattle.
Dindingnya putih, dan perabotan berwarna
biru pucat. Tempat tidurnya sangat besar dan sangat modern, terbuat dari
kayu abu-abu yang keras, seperti kayu apung, empat tiang, tapi tak ada
kanopi. Di atas dinding ada lukisan pemandangan laut yang menakjubkan.
Aku gemetar seperti selembar daun.
Inilah. Akhirnya, setelah sekian lama, aku akan melakukannya, tidak lain
dengan Christian Grey. Napasku tersengal-sengal, dan aku tak bisa
mengalihkan pandangan dari dia.
Dia melepaskan jam tangannya dan
meletakkannya di atas sebuah lemari laci yang sepadan dengan tempat
tidur, dan membuka jaket, menempatkannya di kursi. Dia mengenakan kemeja
putih linen dan celana jins.
Dia sangat tampan. Rambut tembaga
gelapnya berantakan, bajunya keluar dari celana – mata abu-abunya tegas
dan mempesona. Dia melepaskan sepatu Converse dan meraih kaus kakinya
keluar satu persatu. Kaki Christian Grey… wow… ada apa dengan kaki
telanjang? Berbalik, dia menatap ke arahku, ekspresinya lembut.
“Aku berasumsi kau tidak minum pil.”
Apa! Sial.
“Aku tidak berpikir tentang itu.” Dia
membuka laci atas dan mengambil sebungkus kondom. Dia menatap ke arahku
dengan penuh perhatian.
“Untuk persiapan,” bisiknya. “Apakah kau ingin tirai ditutup?”
“Aku tak peduli.” Bisikku. “Kupikir kau tak membiarkan siapa pun tidur di tempat tidurmu.”
“Siapa bilang kita akan tidur?” Gumannya pelan.
“Oh.” Sial.
Dia berjalan perlahan ke arahku. Percaya
diri, seksi, mata menyala, dan hatiku mulai berdebar-debar. Darahku
terpompa ke seluruh tubuhku. Gairah, kental dan panas, berkumpul
diperutku. Dia berdiri di depanku, menatap ke dalam mataku. Dia begitu
sexy.
“Ayo lepaskan jaketnya, boleh?” Katanya
lembut, dan menarik kerah jaketku dengan lembut dan melepaskannya dari
bahuku. Dia meletakkannya di kursi.
“Apakah kau tahu betapa aku sangat menginginkanmu, Ana Steele?” Bisiknya.
Napasku memburu. Aku tak bisa mengalihkan tatapan darinya. Jari-jarinya menyentuh dengan lembut dari pipi ke daguku.
“Apakah kau tahu apa yang akan aku lakukan padamu?” Ia menambahkan, membelai daguku.
Otot-ototku yang terdalam, paling gelap menegang penuh kenikmatan.
Kepedihan yang begitu manis dan tajam.
Aku ingin memejamkan mataku, tapi aku terhipnotis oleh mata abu-abunya
menatap sangat kuat kedalam mataku. Membungkuk ke bawah, dia menciumku.
Bibirnya menuntut, tegas dan lambat, menyatu denganku. Dia mulai membuka
kancing kemejaku sambil memberi ciuman di rahang, daguku, dan
sudut-sudut mulutku. Perlahan-lahan ia melepaskan dariku dan membiarkan
jatuh ke lantai. Dia berdiri kembali dan menatap ke arahku. Aku memakai
bra biru muda berenda yang pas sempurna. Syukurlah.
“Oh, Ana,” dia bernafas. “Kau memiliki kulit paling indah, putih dan mulus. Aku ingin mencium setiap inci kulit itu.”
Mukaku memerah. Oh… Mengapa dia
mengatakan dia tidak bisa bercinta? Aku akan melakukan apapun yang dia
inginkan. Dia merenggut ikat rambutku, melepasnya, dan mendesah, saat
rambutku terurai di bahuku.
“Aku suka rambut cokelat,” bisiknya, dan
tangannya membelai rambutku, memegang kedua sisi kepalaku. Ciumannya
menuntut, lidah dan bibirnya membujukku. Aku mengerang, dan lidahku
mencoba menerimanya. Dia meletakkan tangannya melingkariku dan menarikku
ke tubuhnya, sambil meremas erat-erat. Satu tangannya masih di
rambutku, satunya lagi turun dari punggung ke pinggang dan sampai
bokongku. Tangannya membelai dengan lembut bokongku dan meremasnya
dengan lembut.
Dia menahanku di pinggulnya, dan aku merasakan ereksinya, dan dia bersemangat mendorong ke dalam diriku.
Aku mengerang sekali lagi ke dalam
mulutnya. Aku hampir tak dapat menguasai perasaan liar atau apakah
hormon ini meluap di sekujur tubuhku. Aku menginginkannya amat tidak
senonoh. Mencengkeram lengan atasnya, aku merasakan ototnya, dia cukup
kuat… berotot. Dengan ragu-ragu, aku menggerakkan tanganku ke wajah dan
ke rambutnya. Ya ampun. Rambutnya sangat lembut, tak beraturan. Aku
menariknya dengan lembut, dan dia mengerang.
Dia mendorongku pelan-pelan ke tempat
tidur, sampai aku merasa di belakang lututku. Aku pikir dia akan
menindihku, tapi tenyata tidak. Melepasku, tiba-tiba dia berlutut. Dia
meraih pinggulku dengan kedua tangannya dan lidahnya berjalan di sekitar
pusarku, kemudian dengan lembut menggigit sepanjang pinggulku, perut
lalu di sisi pinggulku yang lain.
“Ah,” aku mengerang.
Melihat dia berlutut di depanku,
merasakan mulutnya ditubuhku itu begitu tak terduga, dan panas. Tanganku
tetap di rambutnya, menarik lembut saat aku mencoba untuk menenangkan
pernapasanku yang terlalu cepat. Dia menatap ke arahku melalui bulu
mata, mata abu-abunya terbakar. Tangannya menjangkau dan mencoba melepas
jeansku, dan dengan perlahan menarik ritsleting ke bawah.
Tanpa mengalihkan pandangan dariku,
tangannya bergerak di balik pinggang dan mengusap bokongku. Tangannya
meluncur perlahan ke bokong lalu ke pahaku, melepas jeansku. Aku tak
bisa berpaling. Dia berhenti dan menjilati bibirnya, tak pernah melepas
tatapan matanya. Dia membungkuk kedepan, mencium ke puncak di antara
kedua pahaku. Aku merasakan dia.
Disana.
“Baumu wangi,” bisiknya dan menutup
matanya, ekspresi kenikmatan sangat jelas di wajahnya, dan aku praktis
mengejang. Dia mencapai ke atas dan menarik selimut dari tempat tidur,
kemudian mendorongku dengan lembut sehingga aku jatuh ke kasur.
Masih berlutut, ia mencengkeram kakiku
dan membuka Converseku, sambil melepaskan sepatu dan kaus kakiku. Aku
mengangkat diri pada sikuku untuk melihat apa yang dia lakukan. Aku
terengah-engah… menginginkannya. Dia mengangkat tumit kakiku dan
mengelus jempol kaki sampai punggung kakiku. Ini hampir menyiksa, tapi
aku merasa gerakan itu bergema di selangkanganku. Aku terkesiap. Tidak
mengalihkan tatapannya padaku, sekali lagi ia mencium sepanjang punggung
kakiku dan kemudian menggigitnya. Sial. Aku merintih … bagaimana aku
bisa merasakan hal ini. Disana. Aku jatuh kembali ke tempat tidur,
merintih. Aku mendengar tawanya yang lembut.
“Oh, Ana, apa yang aku bisa lakukan
padamu,” bisiknya. Dia melepas sepatu dan kaus kakiku yang lain,
kemudian berdiri dan membuka jeansku. Aku berbaring di tempat tidurnya
hanya mengenakan bra dan celana dalam, dan dia menatapku.
“Kau sangat cantik, Anastasia Steele. Aku tak sabar untuk berada di dalammu.”
Ya ampun. Kata-katanya begitu menggoda. Dia mengambil napas panjang.
“Tunjukkan bagaimana kau memuaskan dirimu sendiri.”
Apa? Aku mengerutkan kening.
“Jangan malu-malu, Ana, tunjukkan,” bisiknya.
Aku menggelengkan kepala.
“Aku tak tahu apa maksudmu.” Suaraku serak. Aku hampir tidak mengenalinya, berpadu dengan gairah.
“Bagaimana kau membuat dirimu orgasme? Aku ingin melihat.”
Aku menggelengkan kepala.
” Aku tak tahu,” gumamku. Dia mengangkat alisnya, heran sejenak, dan matanya menjadi gelap, dan dia menggeleng tak percaya.
“Yah, kita harus melihat apa yang dapat
kita lakukan tentang itu.” Suaranya lembut, penuh tantangan, ancaman
sensual terasa nikmat. Dia Membuka kancing celana jinsnya dan perlahan
menarik celana ke bawah, matanya menatapku sepanjang waktu. Dia
membungkuk di atasku dan, memegang kedua pergelangan kakiku, cepat
menyentak kakiku terpisah dan merangkak ke tempat tidur di antara kedua
kakiku. Ia melayang di atasku. Aku menggeliat dengan kebutuhan.
“Jangan bergerak,” bisiknya, lalu ia
membungkuk dan mencium bagian dalam pahaku, jalur ciuman keatas, diatas
bahan berenda tipis celana dalamku, menciumku.
Oh… aku tidak bisa diam. Bagaimana aku bisa tak bergerak? Aku menggeliat di bawahnya.
“Kita harus mencari cara agar kau tetap
diam, Sayang.” Dia mencium sampai perutku, dan lidahnya turun ke
pusarku. Lalu dia menuju keatas, menciumku di seluruh tubuhku.
Kulitku terbakar. Aku memerah, terlalu
panas, terlalu dingin, dan aku mencakar sprei di bawahku. Dia berbaring
di sampingku, dan tangannya meraba naik dari pinggulku, ke pinggangku,
dan sampai payudaraku. Dia menatap ke arahku, ekspresinya tak terbaca,
dan dengan lembut menangkup payudaraku.
“Punyamu benar-benar sesuai dengan
tanganku, Anastasia,” gumannya dan memasukkan jari telunjuknya ke dalam
cup bra-ku dan dengan lembut menyentak ke bawah membebaskan payudaraku,
rupanya susunan kawat dibawahnya dan kain cup bra-ku menekannya ke atas.
Jarinya bergerak ke payudaraku yang lain dan mengulangi proses.
Payudaraku membengkak, dan putingku mengeras di bawah tatapannya.
Payudaraku terdorong keatas oleh bra-ku sendiri. “Sangat indah,”
bisiknya memuji, dan putingku menjadi lebih keras lagi.
Dia meniup sangat lembut pada salah satu
saat tangannya bergerak ke payudaraku yang lain, dan ibu jarinya
perlahan-lahan berputar di putingku, memanjangkannya. Aku merintih,
merasakan sensasi nikmat sampai ke pangkal pahaku. Aku sangat basah. Oh
ayolah, batinku memohon saat jemariku menggenggam sprei lebih erat.
Bibirnya menghisap putingku yang lain dan ia menariknya. Aku hampir
mengejang.
“Mari kita lihat apakah kita dapat
membuatmu keluar seperti ini,” bisiknya, terus melakukan serangan
lambat, sensual. Putingku menghasilkan kenikmatan di jari yang trampil
dan bibirnya, membuatku terbakar setiap satu saraf berakhir dalam
tubuhku sehingga seluruh tubuhku bernyanyi dengan siksaan kenikmatan.
Dia bahkan tak berhenti.
“Oh… aku mohon,” aku menarik kepalaku ke
belakang, membuka mulutku saat aku mengerang, kaki menegang. Sialan, apa
yang terjadi padaku?
“Mari lepaskan, sayang,” bisiknya.
Giginya menggigit halus sekeliling putingku, dan ibu jari dan jarinya
menarik keras, dan aku berantakan di tangannya, tubuhku kejang-kejang
dan hancur menjadi ribuan keping. Dia menciumku, dalam, lidahnya di
mulutku menyerap jeritku.
Oh… Luar biasa. Sekarang aku tahu kenapa
semua orang ribut-ribut membicarakan tentang itu. Dia menatap ke arahku,
senyum puas di wajahnya, sementara aku yakin tak lain hanyalah rasa
syukur dan kagum padaku.
“Kau sangat responsif,” dia bernafas.
“Kau harus belajar untuk mengendalikannya, dan itu akan jadi sangat
menyenangkan mengajarimu bagaimana caranya.” Dia menciumku lagi.
Napasku masih tak teratur saat aku sudah
berhenti orgasme. Tangannya bergerak ke bawah pinggang, ke pinggulku,
dan kemudian menangkupku, sangat intim… Astaga. Jarinya menyelinap
melalui renda yang halus dan perlahan-lahan berputar di sekitarku –
Disana. Dengan cepat dia menutup matanya, dan napasnya tersendat-sendat.
“Kau begitu nikmat dan basah. Ya Tuhan,
aku menginginkanmu.” Dia mendorong jarinya dalam diriku, dan aku
menjerit saat ia melakukannya lagi dan lagi… Dia menyentuh klitorisku,
dan aku menjerit sekali lagi. Dia mendorong dalam diriku lebih keras dan
lebih keras lagi. Aku mengerang.
Tiba-tiba, ia duduk dan melepaskan celana
dalamku dan melemparkannya ke lantai. Menarik celana boxernya,
ereksinya berayun bebas. Ya ampun… Dia meraih ke meja sisi tempat
tidurnya dan meraih bungkus foil, dan kemudian ia bergerak di antara
kedua kakiku, lalu membukanya.
Dia berlutut dan menarik kondom yang cukup panjang. Oh tidak … Akankah itu? Bagaimana?
“Jangan khawatir,” dia bernafas,
menatapku,” Kau akan melebar juga.” Dia membungkuk, tangannya di kedua
sisi kepalaku, jadi dia berada di atasku, menatap kearah mataku,
rahangnya terkatup, matanya terbakar. Hanya sekarang aku sadar dia masih
mengenakan kemejanya.
“Kau benar-benar ingin melakukan ini?” Tanya dia lembut.
“Ya,” Aku memohon.
“Tarik lutut ke atas,” ia memerintahkan
dengan lembut, dan aku cepat menuruti. “Aku akan bercinta denganmu, Miss
Steele,” gumamnya sambil memposisikan kepala ereksinya di jalan masuk
kemaluanku. “Dengan keras,” dia berbisik, dan dia menghunjam memasukiku.
“Aargh!” Teriakku saat aku merasakan
sensasi cubitan aneh dalam diriku saat ia merobek keperawananku. Dia
diam, menatap ke arahku, matanya cerah penuh kemenangan yang meluap.
Mulutnya terbuka sedikit, dan nafasnya mendengus. Dia mengerang.
“Kau begitu ketat. Kau oke?”
Aku mengangguk, mataku melebar, tanganku
di lengan bawahnya. Aku merasa begitu penuh. Dia tetap diam,
membiarkanku menyesuaikan diri terhadap rasa mengganggu yang luar biasa
dari dirinya dalam diriku.
“Aku akan bergerak, sayang,” ia bernafas setelah beberapa saat, suaranya tertahan.
Oh.
Dia meredakan mundur kembali dengan
kelambatan yang halus. Dan dia menutup matanya dan mengerang, dan
menyodok dalam diriku lagi. Aku berteriak untuk kedua kalinya, dan ia
berhenti.
“Lagi?” Dia berbisik, suaranya kasar.
“Ya,” aku bernapas. Ia melakukannya sekali lagi, dan berhenti lagi.
Aku mengerang. Tubuhku menerima dia… Oh, aku menginginkan ini.
“Lagi?” Bernafas dia.
“Ya.” Ini sebuah permohonan.
Dan ia bergerak, tapi kali ini ia tak
berhenti. Dia bergeser ke siku sehingga aku dapat merasakan berat
badannya padaku, menahanku dibawah. Dia bergerak perlahan pada awalnya,
menggerakkan dirinya sendiri keluar dan masuk dariku. Dan saat aku
menjadi terbiasa dengan perasaan asing itu, pinggulku bergerak ragu-ragu
untuk mengimbanginya.
Dia mempercepat geraknya. Aku mengerang,
dan dia bergerak terus, menambah kecepatan, tanpa ampun, irama yang
tiada henti, dan aku mengikuti, mengimbangi dorongannya. Dia menggenggam
kepalaku dengan kedua tangannya dan menciumku keras, giginya menarik di
bibir bawahku lagi. Dia sedikit bergeser, dan aku bisa merasakan
sesuatu terbangun dalam diriku, seperti sebelumnya. Aku mulai menjadi
tegang saat ia mendorong dan terus menerus. Tubuhku bergetar, terlempar,
butir keringatku keluar. Ya… aku tak tahu jika rasanya akan seperti
ini… tak tahu itu bisa merasa senikmat ini. Pikiranku berhamburan… hanya
ada sensasi… hanya dia… hanya aku… oh please… aku menjadi kaku.
“Keluarlah untukku, Ana,” bisiknya
terengah-engah, dan aku mengurai kata-katanya, meledak di sekelilingnya
saat aku klimaks dan pecah berkeping-keping di bawahnya. Dan saat ia
keluar, ia memanggil namaku, mendorong dengan keras, kemudian menegang
saat ia mengosongkan dirinya ke dalam diriku.
Aku masih terengah-engah, mencoba untuk
memperlambat pernapasanku, jantung berdebar, dan pikiranku kacau tak
beraturan. Wow… itu mengagumkan. Aku membuka mata, dan dahinya
menekanku, matanya tertutup, napasnya memburu. Mata Christian berkedip
terbuka dan menatap ke arahku, gelap tapi lembut. Dia masih dalam
diriku. Condong ke bawah, ia dengan lembut menekan ciuman di dahku lalu
perlahan-lahan menarik keluar dariku.
“Ooh.” Aku meringis belum terbiasa.
“Apakah aku menyakitimu?” Christian
bertanya saat ia berbaring di sampingku bersandar pada satu siku. Dia
menyelipkan sehelai rambutku yang nyasar di belakang telingaku. Dan aku
tersenyum lebar.
“Kau bertanya padaku apa kau menyakitiku?”
“Ironinya tidak hilang padaku,” dia
tersenyum sinis. “Serius, apakah kau baik-baik saja?” Matanya intens,
menyelidik, bahkan menuntut.
Aku meluruskan badanku disampingnya,
melonggarkan kaki, tulangku seperti jelly, tapi aku santai, sangat
santai. Aku menyeringai padanya. Aku tak bisa berhenti nyengir. Sekarang
aku tahu apa yang semua orang ribut-ributkan tentang ini.
Dua orgasme… datang berkeping-keping, seperti siklus berputar pada mesin cuci, wow.
Aku tak tahu apa yang tubuhku mampu
lakukan, bisa dimasuki begitu erat dan dilepaskan begitu hebat, begitu
memuaskan. Kenikmatan itu tak terlukiskan.
“Kau menggigit bibirmu, dan kau belum
menjawabku.” Dia mengerutkan kening. Aku menyeringai ke arahnya nakal.
Dia tampak menggemaskan dengan rambut kusut, mata abu-abunya membakar
menyipit, dan serius, ekspresi gelap.
“Aku ingin melakukannya lagi,” bisikku.
Untuk sesaat, aku pikir aku melihat tampilan sekilas lega di wajahnya,
sebelumnya muram, dan dia menatap ke arahku dengan mata berkabut.
“Apakah kau mau sekarang, Miss Steele?”
Bisiknya datar. Dia membungkuk dan menciumku dengan sangat lembut di
sudut mulutku. “Makhluk kecil yang menuntut bukankah kau. Berbaliklah.”
Aku berkedip padanya sesaat, dan kemudian
aku berbalik. Dia melepas kaitan bra-ku dan tangannya menjalar dari
punggung ke bokongku.
“Kau benar-benar memiliki kulit paling
indah,” bisiknya. Dia bergeser sehingga salah satu kakinya mendorong
antara kakiku, dan dia setengah berbaring di punggungku. Aku bisa
merasakan kancing kemejanya menekan diriku saat ia mengumpulkan rambut
dari wajahku dan mencium bahuku yang telanjang.
“Mengapa kamu memakai bajumu?” Tanyaku.
Dia diam. Seperti mengalah, ia membuka kemejanya, dan ia berbaring
dibelakangku. Aku merasakan kulit hangat terhadapku. Hmm … rasanya
surgawi. Dia memiliki bulu-bulu halus di dadanya, yang menggelitik
punggungku.
“Jadi kau ingin bercinta denganku lagi?”
Ia berbisik di telingaku, dan dia mulai mencium aku merasakan bulu halus
di sekitar telingaku dan ke bawah leherku.
Tangannya bergerak ke bawah, membelai
pinggangku, diatas pangkal pahaku, dan ke bawah pahaku ke bagian
belakang lututku. Dia mendorong lututku sampai lebih tinggi, dan napasku
sesak… oh, apa yang dilakukannya sekarang? Dia bergeser di antara kedua
kakiku, menekan punggungku, dan tangannya bergerak ke atas pahaku ke
pantatku. Dia membelai pantatku dengan pelan, dan kemudian menjalankan
jari-jarinya di antara kedua kakiku.
“Aku akan melakukannya dari belakang,
Anastasia,” bisiknya, dan dengan tangannya yang lain, ia mencengkeram
rambutku di tengkuk mengenggam dan menarik lembut, menahanku di tempat.
Aku tak bisa menggerakkan kepalaku. Aku terikat di bawahnya, tak
berdaya.
“Kau milikku,” bisiknya. “Hanya milikku.
Jangan lupakan itu.” Suaranya memabukkan, kata-katanya memabukkan,
merayu. Aku merasakan ereksinya lagi dipahaku. Jari yang panjang
berputar memijat lembut klitorisku, berputar-putar perlahan. Napasnya
yang lembut di wajahku saat ia perlahan menggigitku di sepanjang
rahangku.
“Aromamu memabukkan,” dia mencium
belakang telingaku. Tangannya menggesekku, berputar-putar. Refleks,
pinggulku berputar, mengikuti gerakan tangannya, saat lonjakan
kenikmatan menyiksa melalui darahku seperti adrenalin.
“Tetap diam,” perintahnya, suaranya
lembut tapi mendesak, dan perlahan-lahan ia memasukkan ibu jarinya dalam
diriku, berputar-putar, membelai dinding depan vaginaku. Efeknya intens
mempengaruhi pikiran – semua energiku berkonsentrasi pada satu ruang
kecil di dalam tubuhku. Aku mengerang.
“Kau menyukai ini?” Tanyanya lembut,
giginya menggigit daun telingaku, dan ia mulai melenturkan ibu jarinya
perlahan, masuk, keluar, masuk, keluar… jari-jarinya masih
berputar-putar.
Aku memejamkan mata, mencoba bernafas
tetap terkontrol, mencoba menyerap sensasi kebingungan, kekacauan yang
jari-jarinya berikan padaku, api mengalir melalui tubuhku. Aku mengerang
lagi.
“Kau begitu basah, begitu cepat. Sangat responsif. Oh, Anastasia, aku suka itu. Aku sangat menyukainya,” bisiknya.
Aku ingin menegangkan kakiku, tapi tak
bisa bergerak. Dia menjepitku ke bawah, menjaga irama konstan, pelan,
dan berputar-putar. Benar-benar indah. Aku mengerang lagi, dan dia
bergerak tiba-tiba.
“Buka mulutmu,” perintahnya dan menyodorkan ibu jarinya di mulutku. Mataku terbuka lebar, berkedip liar.
“Lihat bagaimana kau rasanya,” ia
bernafas di telingaku. “Hisap sayang.” Menekan ibu jarinya di lidahku,
dan memasukkan jarinya ke mulutku, mengisap liar. Aku merasakan rasa
asin pada ibu jarinya dan bau samar logam dari darah. Sial. Ini salah,
tapi sialan itu erotis.
“Aku ingin bercinta dengan mulutmu, Anastasia, dan aku segera melakukannya,” suaranya serak, kasar, napasnya terputus-putus.
Sial… bercinta dimulutku! Aku mengerang,
dan aku menggigitnya. Dia terengah-engah, dan ia menarik lebih ketat
rambutku, menyakitkan, jadi aku melepaskan dia.
“Nakal, gadis manis,” bisiknya, lalu ke
meja samping tempat tidur untuk mengambil bungkus foil. “Tetaplah diam,
jangan bergerak,” perintahnya saat ia melepaskan rambutku.
Dia merobek foil sementara aku bernapas keras, darahku menyanyi di pembuluh darahku.
Menunggunya jadi menggairahkan. Dia
membungkuk, badannya menekanku lagi, dan dia meraih rambutku menahan
kepalaku supaya tak bergerak. Aku tak bisa bergerak. Aku terjebak
godaannya, dan dia siap sedia untuk mengambil diriku sekali lagi.
“Sekarang kita akan benar-benar melakukannya dengan sangat pelan-pelan, Anastasia,” dia bernafas.
Dan dia mendorong pelan-pelan dalam
diriku, perlahan, perlahan, sampai dia terkubur di dalam diriku.
Meregang, mengisi, tanpa henti. Rasanya lebih dalam saat ini, nikmat.
Aku merintih lagi, dan dia sengaja memutar pinggulnya dan menarik
kembali, berhenti sejenak, dan kemudian mendorong kembali masuk.
Dia mengulangi gerakan ini lagi dan lagi.
Ini membuatku gila – dorongannya dengan sengaja lambat, menggoda, dan
perasaan berhenti dan mulai lagi dengan sempurna sangat luar biasa.
“Kau rasanya sangat nikmat,” ia mengerang, dan bagian dalam tubuhku mulai bergetar. Dia menarik kembali dan menunggu.
“Oh tidak, sayang, belum,” bisiknya, dan setelah getaran mereda, ia memulai seluruh proses nikmatnya lagi.
“Oh, ayolah,” Aku mohon. Aku tak yakin aku bisa menerima lebih banyak lagi. Tubuhku begitu kaku, mendambakan pelepasan.
“Aku ingin kau sakit, sayang,” bisiknya, dan ia melanjutkan lagi, siksaan pelan-pelan, mundur, maju.
“Setiap kali kau bergerak besok, aku ingin kau diingatkan bahwa aku sudah pernah di sini. Hanya aku. Kau adalah milikku.”
Aku mengerang.
“Ayolah, Christian,” bisikku.
“Apa yang kau inginkan, Anastasia? Katakan padaku.”
Aku merintih lagi. Dia mencabut keluar dan bergerak masuk perlahan-lahan kembali padaku, memutar pinggulnya sekali lagi.
“Katakan padaku,” bisiknya.
“Kamu, ayolah.”
Dia meningkatkan irama amat sangat pelan,
dan napasnya menjadi lebih tak menentu. Bagian dalam tubuhku mulai
semakin cepat, dan Christian meningkatkan iramanya.
“Kau. Begitu. Manis,” bisiknya diantara setiap dorongan. “Aku. Sangat. Menginginkan. Kamu.”
Aku mengerang.
“Kau. Adalah. Milikku. Keluarlah untukku, sayang,” ia menggeram.
Kata-katanya adalah kehancuranku, saat
kritis ditepi jurang. Tubuhku mengejang di sekitarnya, dan aku orgasme,
lantang berteriak memanggil namanya diatas kasur, dan Christian
mengikuti dengan dua dorongan tajam, dan dia membeku, menuangkan dirinya
ke dalam diriku saat ia menemukan pelepasannya. Dia ambruk di atasku,
wajahnya di rambutku.
“Ya ampun. Ana,” dia bernafas. Dia
menarik keluar dariku dengan segera dan berguling ke samping tempat
tidur. Aku menarik lutut sampai ke dadaku, benar-benar letih, dan segera
tertidur atau pingsan kelelahan.
*****
Saat aku bangun, ini masih gelap. Aku tak
tahu berapa lama aku tertidur. Aku berbaring di bawah selimut, dan aku
merasa sakit, sakit secara nikmat. Christian tak terlihat. Aku duduk,
menatap pemandangan kota di depanku. Ada sedikit cahaya di antara gedung
pencakar langit, dan ada bisikan fajar di timur. Aku mendengar musik.
Irama gembira dari piano, sebuah ratapan sedih, merdu. Karya Bach, aku
pikir, tapi aku tak yakin.
Aku membungkus tubuhku dengan selimut dan diam-diam berjalan menyusuri koridor menuju ruang besar.
Christian duduk di depan piano,
benar-benar tenggelam dalam musik yang dia mainkan. Ekspresinya sedih
dan kesepian seperti musiknya. Permainannya menakjubkan. Bersandar ke
dinding di pintu masuk, aku mendengarkan dengan terpesona. Dia seperti
seorang musisi yang handal. Dia duduk telanjang, tubuhnya bermandikan
cahaya hangat disinari oleh lampu yang berdiri sendiri di samping piano.
Dengan sisa ruangan besar dalam kegelapan, ini seperti dia berada
terisolasi di kolam kecilnya sendiri dari cahaya, tak tersentuh…
kesepian, didalam gelembung.
Aku diam-diam berjalan ke arahnya,
tertarik oleh musik melankolis yang indah. Aku terpesona menonton jari
yang panjang terampil saat menemukan dan dengan lembut menekan tuts,
berpikir bagaimana jari-jari yang sama telah dengan ahli meraba dan
membelai tubuhku. Mukaku memerah dan terkesiap pada ingatan itu dan
menekan pahaku bersama-sama. Ia mendongak, mata tak terduga abu-abunya
terang, ekspresinya tak terbaca.
“Maaf,” bisikku. “Aku tak bermaksud mengganggumu.”
Sebuah kerutan terlihat di wajahnya.
“Tentunya, aku yang harus mengatakan itu padamu,” bisiknya. Ia selesai bermain dan meletakkan tangannya di kakinya.
Aku perhatikan sekarang bahwa dia memakai celana piyama. Jarinya menyisir rambutnya dan berdiri.
Celananya menggantung dari pinggul,
dengan cara itu… oh. Mulutku kering saat ia berjalan dengan santai dari
piano ke arahku. Ia memiliki bahu lebar, pinggang kecil, dan otot
perutnya membentuk riak saat ia berjalan. Dia benar-benar menakjubkan.
“Kau harusnya di tempat tidur,” ia memperingatkan.
“Melodi yang indah. Karya Bach?”
“Disalin oleh Bach, tapi aslinya oboe concerto oleh Alessandro Marcello.”
“Itu indah, tapi sangat sedih, seperti melodi melankolis.”
Bibirnya dengan khas setengah tersenyum.
“Tidur,” ia memberi perintah. “Kau akan kelelahan besok pagi.”
“Aku terbangun dan kau tak ada.”
“Aku sulit tidur, dan aku tak terbiasa
tidur dengan siapa pun,” bisiknya. Aku tak bisa membayangkan suasana
hatinya. Dia tampaknya sedikit putus asa, tapi sulit untuk mengatakan
dalam kegelapan. Mungkin masih terbawa melodi yang dimainkannya. Dia
melingkarkan tangannya di tubuhku dan dengan lembut mengantarku kembali
ke kamar tidur.
“Berapa lama kau sudah bermain? Kamu bermain sangat indah.”
“Sejak aku berusia enam tahun.”
“Oh.” Christian sebagai seorang anak enam
tahun… pikiranku memunculkan gambar seorang anak, cakep berambut
tembaga kecil dengan mata abu-abu dan hatiku meleleh – anak kecil yang
suka musik sedih.
“Bagaimana perasaanmu?” Tanyanya saat kita kembali berada di kamar. Dia menyalakan lampu samping.
“Aku baik.” Kami berdua melirik tempat
tidur pada saat yang sama. Ada darah pada sprei – bukti hilangnya
keperawananku. Mukaku memerah, malu, menarik selimut lebih ketat di
tubuhku.
“Yah, itu akan memberi Ibu Jones sesuatu
untuk dipikirkan,” gumam Christian ketika ia berdiri di depanku. Dia
menempatkan tangannya di bawah daguku dan menyentuh belakang kepalaku,
menatap ke arahku. Matanya intens saat ia meneliti wajahku. Aku
menyadari bahwa aku tak pernah melihat dada telanjang sebelumnya. Secara
naluriah, aku menjangkau untuk menyentuh dengan jariku melalui
segelintir rambut gelap di dadanya untuk melihat bagaimana rasanya.
Seketika itu juga, ia melangkah mundur dari jangkauanku.
“Naik ke tempat tidur,” katanya tajam. “Aku akan ikut berbaring denganmu.” Suaranya melembut.
Aku menjatuhkan tanganku dan cemberut.
Aku rasa, aku tak pernah menyentuh tubuhnya. Ia membuka laci dan
mengeluarkan t-shirt dan cepat mengenakan.
“Tidur,” perintahnya lagi. Aku naik kembali ke tempat tidur, mencoba untuk tak memikirkan darah itu.
Dia merangkak di sampingku dan menarikku
ke dalam pelukannya, membungkus tangannya di tubuhku sehingga aku
memunggungi dia. Dia mencium lembut rambutku, dan dia menghirup nafas
dalam-dalam.
“Tidur, Anastasia manis,” bisiknya, dan
aku memejamkan mata, tapi aku tak dapat menahan rasa sisa-sisa
melankolis baik dari musik atau sikapnya. Christian Grey memiliki sisi
sedih.